Pembuktian Empiris Prioritas Holding Company BUMN

Research

by Toto Pranoto

Pembuktian Empiris Prioritas Holding Company BUMN

Semenjak terbentuknya BUMN pertama di Indonesia hingga saat ini, mungkin belum banyak terpikirkan bahwa seluruh BUMN bisa digambarkan menjadi sebuah matriks yang memetakan sinergi antar BUMN. Meskipun terdapat perbedaan sifat, karakter, jenis, dan daya saing, terdapat kondisi dimana satu BUMN menjadi pemasok dan BUMN yang lain menjadi pembeli dalam rantai nilai yang sama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya BUMN telah memiliki pasar dan menguasai sumber daya. Situasi ini sekaligus menunjukkan bahwa sebenarnya dapat dilakukan sinergi antar BUMN untuk mendapatkan manfaat yang optimal.

Sebelum dilakukannya proses restrukturisasi maupun pembentukan holding BUMN, perlu dilakukan proses pengelompokan fungsi dan pemetaan yang komprehensif terlebih dahulu. BUMN di Indonesia dapat dikategorisasi ke dalam kelompok-kelompok sektoral sebagai berikut: Sektor Lembaga Keuangan, Sektor Infrastruktur, Sektor Ketahanan Energi, Sektor Pertanian dan Perkebunan, Sektor Kehutanan, Sektor Pertambangan, Sektor Konstruksi, Sektor Teknologi, Sektor Manufaktur, serta Sektor Misi Khusus

Hipotesis pemetaan BUMN ini dituangkan dalam Gambar 1 yang disebut dengan istilah LM Bricks Model for SOEs. Hipotesis dituangkan berdasarkan pengalaman Lembaga Management FEB UI (LM FEB UI) dalam melakukan pemetaan BUMN selama beberapa tahun terakhir. Dalam diagram tersebut, digambarkan alur hubungan antar sektor demi terciptanya sinergi dan value added dari masing-masing BUMN.

Gambar 1 LM Brick Model for SOE

Sumber: LM FEB UI (2016)

Sinergi pertama yang menjadi pondasi awal dari kinerja antar sektor BUMN adalah antara pengembangan pada sektor infrastruktur dan penguatan di lembaga keuangan (termasuk perbankan, lembaga pembiayaan dan asuransi). Sinergi ini dapat menjadi landasan utama value creation BUMN mengingat sifat dari kedua sektor. Lembaga keuangan merupakan landasan untuk kegiatan, yakni sebagai sumber perolehan pendanaan. Kemudian, sektor infrastruktur merupakan enabler bagi kegiatan bisnis. Saat ini, pembangunan sektor infrastruktur dijalankan secara masif oleh pemerintah demi terciptanya value added bagi masyarakat banyak dan badan usaha. Mulai dari pembangunan jalan tol, pembangunan sistem dan fasilitas transportasi, perbaikan sarana dan pra sarana fasilitas umum, pembangunan pembangkit listrik, dan lain sebagainya.