Strive to Global Champion

Analisa Kinerja Garuda Indonesia Semester I 2017: Paradoks Kinerja Operasional dan Kinerja Keuangan

Analisis

by redaksi

Analisa Kinerja Garuda Indonesia Semester I 2017:  Paradoks Kinerja Operasional dan Kinerja Keuangan

Membaiknya Kinerja Operasional

Garuda Indonesia terus mencatatkan kinerja operasional korporasi yang positif hingga semester 1/ 2017. Pada semester I tahun 2017 ini, Garuda Indonesia berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan operasional sebesar 7% (yoy) menjadi sekitar 1,9 Miliar USD atau setara dengan 25,2 Triliun rupiah. Hal ini tentunya hal yang patut diapresiasi. Ini artinya strategi transformasi finansial berkelanjutan yang dicanangkan manajemen perlahan menampakkan hasil yang menggembirakan.

Meningkatnya kinerja operasional ini juga tercermin dalam berbagai indikator. Jumlah penumpang dan kargo yang diangkut (passenger and cargo carried) mengalami peningkatan. Cargo carried meningkat sebesar 10,6% atau setara dengan 219,4 ribu dengan dibarengi peningkatan cargo revenue sebesar 12,3% (yoy) menjadi 115,6 Juta USD.

Sementara itu, passenger carried meningkat sebesar 3,9% (yoy) atau setara dengan 17,2 juta penumpang dimana pertumbuhan passenger carried rute internasional mencapai 15% (yoy). Pendapatan dari rute internasional pada semester I 2017 ini mencapai 653,3 Miliar USD, melampaui pendapatan dari rute domestik yang berada di angka 630,7 Milliar USD. Di tengah persaingan ketat rute internasional, khususnya rute Eropa yang didominasi maskapai Timur Tengah, seperti Qatar Airways, Etihad, dan Emirates, hasil ini menunjukkan bahwa optimalisasi rute internasional ini ke depan dapat menjadi strategi bisnis prioritas untuk menghasilkan kinerja keuangan berkelanjutan.

Selain mengalami peningkatan jumlah penumpang yang diangkut, Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan angka okupansi di setiap penerbangan. Seat load factor (SLF) pada semester I 2017 ini mencapai 73, 3 % secara keseluruhan, sedikit lebih rendah dari rata-rata SLF Internasional di Semester 1 2017 yang mencapai 74,7%. Ini artinya Garuda Indonesia berhasil meningkatkan efektivitas produksinya dimana rute-rute yang dibuka telah cukup tepat sasaran dalam membidik konsumen.


Gambar : Komposisi Market Share Garuda Indonesia


Kinerja operasional paruh pertama 2017 yang positif ini juga diraih berkat keberhasilan korporasi untuk terus meningkatkan kinerja operasional di kuartal II 2017. Berdasarkan market share, Garuda Indonesia berhasil meningkatkan pangsa pasarnya baik rute domestik (39,2% menjadi 39,5%) maupun rute internasional (27,7% menjadi 28%) masing-masing sebesar 0.3%. Sementara itu, pada kuartal II 2017, Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan aircraft utilization menjadi 9,32 jam dari 9,12 jam di kuartal I 2017. Garuda Indonesia juga tetap berhasil mempertahankan kinerja On Time Performance (OTP) sebesar 85%.


Kinerja Keuangan Masih Amburadul


Capaian-capaian mentereng pada kinerja operasional nyatanya belum mampu meningkatkan kinerja keuangan Garuda Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan data yang dirilis, korporasi mencatatkan kerugian bersih sebesar 283, 3 Juta USD atau sekitar 3,77 Triliun Rupiah yang mana kerugian ini naik sebesar 349% (yoy) yang senilai 63,2 Juta USD. Meningkatnya kerugian bersih yang cukup signifikan ini merupakan efek dari peningkatan kerugian bersih pada Kuartal II 2017 yang hampir mencapai dua kali lipat dari kerugian bersih pada Kuartal I 2017 menjadi 184,7 Juta USD 2017.

Setidaknya terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan kinerja keuangan Garuda Indonesia secara keseluruhan masih jauh dari harapan. Faktor pertama adalah pencatatan transaksi tax amnesty pada bulan April 2017 yang nilainya mencapai 137 Juta USD. Selain itu, faktor kedua adalah Garuda Indonesia harus membayar denda atas kasus hukum yang dihadapi tahun 2012 yang nilainya sebesar 8 Juta Dollar AS. Faktor terakhir adalah membengkaknya biaya bahan bakar pesawat yang diakui oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala Mansury masih jauh lebih tinggi dengan biaya bahan bakar di Singapura.

Berdasarkan ketiga faktor di atas, ke depan hanya biaya bahan bakar yang bengkak saja yang menjadi tantangan bagi Garuda Indonesia yang menjadi tantangan utama mengingat faktor pertama dan faktor kedua sifatnya telah terjadi. Selain terus menerus meningkatkan kinerja operasional untuk mendorong peningkatan pendapatan, efisiensi biaya bahan bakar menjadi isu krusial yang harus dijawab manajemen mengingat komponen terbesar biaya operasi disumbang oleh biaya bahan bakar pesawat.

Biaya bahan bakar ini memang menjadi persoalan di industri penerbangan, tidak terkecuali maskapai negara tetangga, Singapore Airlines. Walaupun dari sisi pendapatan Singapore Airlines berhasil mencatatkan pertumbuhan total pendapatan sebesar 5,6% di kuartal I 2017 (yoy) menjadi 2,8 Miliar USD, terjadi peningkatan biaya bahan bakar bersih sebesar 3,4% (yoy) dari 555,3 Juta USD menjadi 662,9 Juta USD. Dari struktur biaya total, pengeluaran terkait bahan bakar ini mendominasi total biaya korporasi yang mencapai 25,8% dari total biaya yang dikeluarkan perusahaan. Namun demikian, Singapore Airlines tetap bisa mengelola keuangan secara baik sehingga sampai Kuartal I 2017, operating profit korporasi bisa tumbuh sebesar 45,6% (yoy) dari 142,1 Juta USD menjadi 206,9 Juta USD.


Arah Strategi Ke Depan

Analisis kinerja menunjukkan bahwa secara umum manajemen Garuda Indonesia terus menerus melakukan perbaikan. “Five Quick Wins Priority” yang dicanangkan manajemen sebagai upaya dalam mencatatkan kinerja keuangan berkelanjutan pada dasarnya adalah langkah tepat. Namun demikian, sampai dengan akhir tahun 2017 ini, upaya untuk memperbaiki performa keuangan korporasi secara keseluruhan masih sebatas langkah untuk mengurangi kerugian total (net loss) yang dihadapi Garuda Indonesia saat ini.

Terdapat dua hal yang perlu diperhatikan guna memperbaiki kinerja Garuda Indonesia ke depan. Peningkatan kinerja operasional melalui “Five Quick Wins Priority” yang sudah berjalan harus tetap. Hal ini bertujuan untuk tetap mendorong peningkatan pendapatan (sisi pendapatan). Selain itu, manajemen juga harus dapat mengendalikan biaya, baik biaya operasi maupun biaya lainnya (sisi biaya).

Efisiensi biaya bahan bakar dan mitigasi biaya-biaya yang mungkin muncul-muncul ke depan harus menjadi perhatian manajemen. Di tengah ketidakpastian ekonomi yang sedang terjadi, manajemen tidak boleh hanya menggenjot sisi pendapatan tanpa juga menaruh perhatian serius dari sisi biaya

***
Analyst : Taufiq