Strive to Global Champion

Benchmarking Kinerja BUMN 2015-2016

Riset

by Toto Pranoto 6429

Toto Pranoto


Direktur Lembaga Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

Benchmarking Kinerja BUMN 2015-2016

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki peran vital dalam perekonomian Indonesia. Adapun terdapat berbagai tujuan mengapa BUMN dibentuk di Indonesia, diantaranya adalah untuk mengejar profit, untuk menjalankan misi khusus (public service obligation), untuk melaksanakan keperintisan usaha baru yang dianggap penting, untuk melaksanakan program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL), dan terakhir untuk pemasukan pemerintah berupa dividen dan pajak (Kementerian BUMN, 2013). Jadi secara umum, BUMN di Indonesia selain berorientasi pada profit, juga harus mempertimbangkan aspek kepentingan sosial masyarakat.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa BUMN Indonesia jumlahnya masih cukup banyak. Ada yang sudah beroperasi optimal ada juga yang mengalami kesulitan operasional. Data per 31 Januari 2015 menunjukkan bahwa Indonesia total memiliki 118 BUMN, atau berkurang sebanyak 21 BUMN dari tahun 2013 yang berjumlah 139 BUMN. Perubahan ini karena adanya perubahan bentuk beberapa BUMN seperti dua BUMN, yaitu Jamsostek dan Askes berubah status hukumnya menjadi BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Selain itu, ada juga pembentukan holding perkebunan dan kehutanan yang memangkas jumlah BUMN , serta adanya merger PT Reasuransi Umum Indonesia (Persero).

Secara global, peran BUMN di berbagai negara terhadap perekonomian dunia juga meningkat cukup pesat. Analisa yang dilakukan PwC (2015) menunjukkan bahwa dalam satu decade terakhir, kontribusi BUMN di dunia dalam Global 500 naik secara signifikan. Kenaikan ini terutama didorong oleh kontribusi BUMN China. Bahkan tiga BUMN China, yaitu Sinopec, CNP, dan State Grid secara konsisten selalu masuk 10 besar Global 500 dari tahun 2010 dan menyumbang kontribusi sebesar 15% dari total keseluruhan.

Mengamati semakin signifikannya peran BUMN bagi perekonomian global, Indonesia perlu belajar dari kisah sukses pengelolaan BUMN di negara lain, setidaknya pada skala regional. Untuk melakukan benchmarking pengelolaan BUMN pada skala regional, Indonesia dapat melakukan benchmarking ke dua negara tetangga, yaitu Malaysia dan Singapore. Kedua negara ini memiliki strategi pengelolaan BUMN yang berbeda dengan Indoensia.

Di Malaysia, terdapat suatu super holding company, yaitu Khazanah Nasional Berhad yang membawahi 11 sub holding yang mana perannya adalah sebagai “Strategic Investment Fund of The Government of Malaysia”. Khazanah Nasional Berhad ini dimiliki secara mayoritas oleh Kementerian Keuangan Malaysia dimana perusahaan dapat mengelola aset komersil pemerintahan serta mengambil kebijakan investasi strategis atas nama negara. Khazanah juga berperan sebagai katalis dalam mengembangkan berbagai strategi dan program pemerintah.

Hasil analisa oleh tim riset LM FEB UI terkait performa Khazanah Nasional Berhard beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kontribusi Khazanah terhadap perekonomian Malaysia cukup baik. Rasio total aset Khazanah terhadap PDB Nominal Malaysia meningkat dari 9,5% menjadi 10,3% di tahun 2015. Namun demikian, terdapat pula penurunan pada beberapa indikator, seperti rasio pendapatan Khazanah terhadap PDB Nominal Malaysia tahun 2015 turun sebesar 0.27 persen dari tahun sebelumnya.

Selain Malaysia, Singapura juga memiliki pengelola khusus BUMN di negaranya yang cukup dikenal luas, yaitu Temasek. Temasek juga merupakan holding company yang bertugas mengelola aset dan investasi strategis negara. Temasek juga mempromosikan prinsip tata kelola yang baik ke seluruh portfolio bisnis yang dimilikinya. Secara manajerial, keputusan strategis diserahkan kepada pimpinan manajemen masing-masing secara professional. Presiden dan Menteri Keuangan Singapura sebagai shareholder Temasek tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi keputusan bisnis.

Berdasarkan analisa oleh tim riset LM FEB UI, performa Temasek Nasional Berhard terus menunjukkan tren yang positif. Hal ini terlihat dari rasio total aset terhadap PDB Nominal Singapura meningkat dari dari 98,9% di tahun 2014 menjadi 125, 9% di tahun 2015. Selain itu, rasio pendapatan juga laba bersih terhadap PDB Nominal Singapura juga meningkat sebesar 2,4% dan 5,8% secara berturut-turut di tahun 2015 dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, di Indonesia pengelolaan BUMN diserahkan sepenuhnya kepada Kementerian BUMN dengan tugas utama adalah menyelenggarakan urusan di bidang pembinaan BUMN dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Adapun Menteri BUMN di bantu oleh beberapa deputi.

Berbeda dengan analisa performa Khazanah dan Temasek terhadap perekonomian negaranya masing-masing, kontribusi seluruh BUMN Indonesia terhadap BUMN Indonesia cenderung menurun. Analisa tim riset LM FEB UI menunjukkan bahwa dari berbagai indikator, terlihat kontribusi BUMN Indonesia cenderung negatif. Rasio total aset terhadap PDB Nominal Indonesia turun sekitar 2 % di tahun 2015 dari tahun sebelumnya. Selain itu, rasio pendapatan juga laba terhadap PDB Nominal turun pada kisaran angak 0,4 - 0,5%.

Untuk menganalisa perbandingan kinerja antara BUMN Indonesia, dengan Khazanah, dan Temasek, tim riset LM FEB UI melakukan analisa lebih dalam dengan dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah menganalisa perbandingan kinerja 20 BUMN Tbk di Indonesia dengan performa Khazanah dan Temasek. Hal ini dilakukan karena terdapat pareto dimana sekitar 80% kontribusi BUMN Indonesia disumbang oleh 20 BUMN Tbk ini. Pendekatan kedua adalah perbandingan kinerja di beberapa sektor, yaitu Perbankan, Migas, Telekomunikasi, dan Bandar Udara. Ke empat sektor ini dipilih berdasarkan pertimbangan perusahaan BUMN di Indonesia, Malaysia, dan Singapura pada sektor tersebut paling mendekati untuk diperbandingkan secara apple-to-apple.

Berdasarkan pendekatan pertama, kemampuan BUMN Indonesia (diwakili oleh 20 BUMN Tbk.) dalam menghasilkan return relatif baik. Hal ini terlihat dari rasio return on asset (ROA) BUMN Indonesia yang lebih baik dari khazanah dan Temasek, yaitu mencapai 15,64% dimana ROA Khazanah dan Singapura hanya 1,4% dan 5,16% secara berturut-turut. Hal ini artinya BUMN Indonesia yang sudah go public mampu mencatatkan kinerja yang baik. Namun demikian, dari sisi pertumbuhan total asset, BUMN Indonesia masih lebih rendah dari pertumbuhan total aset yang dibukukan oleh Khazanah dan Temasek. Sedangkan dari sisi pertumbuhan pendapatan, BUMN Indonesia mencatat kenaikan sekitar 1.9 persen, lebih tinggi dibandingkan Khazanah namun lebih rendah dibandingkan Temasek.

Sementara itu untuk pendekatan kedua, sektor pertama yang dianalisa adalah sektor perbankan. Pada sektor perbankan, BUMN Indonesia diwakili oleh Bank Mandiri, BNI, BTN, dan BRI. Sedangkan BUMN Malaysia diwakili oleh Maybank, Cimb, dan RHB Bank. Terakhir, Singapura diwakili oleh UOB, OCBC, dan DBS Bank. Hasil analisa kinerja menunjukkan bahwa pertumbuhan total aset bank-bank BUMN Indonesia lebih tinggi dari bank-bank BUMN baik di Malaysia maupun Singapura dengan pertumbuhan asset secara rata-rata pada angka di atas 10%. Dari sisi pendapatan (Earning Before Tax/EBT), BUMN perbankan Indonesia yang mengalami peningkatan kinerja adalah Bank Mandiri dan BTN.

Selain pertumbuhan asset dan pendapatan, pada sektor perbankan ini komparasi juga difokuskan pada tiga aspek, yaitu non performing loan (NPL), net interest margin (NIM), serta cost to income. Dari sisi kualitas kredit yang tergambar melalui tingkat NPL, terlihat kualitas kredit bank-bank BUMN Indonesia menurun. Hal ini ditandai dengan kenaikan NPL yang relative lebih tinggi dibandingkan bank-bank BUMN di Malaysia dan Singapura. Dari sisi NIM, Bank BTN mencatatkan performa yang relatif paling baik dengan mencatatkan peningkatan NIM sebesar 0.40. Terakhir dari sisi cost to income, beberapa bank BUMN di Indonesia, yaitu BNI dan BRI mencatatkan peningkatan cost to income. Di Malaysia dan Singapura, peningkatan cost to income dialami oleh OCBC, UOB, dan RHB Bank.

Dari sektor minyak dan gas, dua BUMN yang diperbandingkan adalah Pertamina miliki Indonesia dan Petronas milik Malaysia. Secara performa, Total aset Petronas masih cukup dominan dibandingkan dengan Pertamina, dengan angka pertumbuhan total aset Pertamina yang relatif rendah. Penurunan harga minyak dunia berdampak cukup signifikan terhadap kedua perusahaan ini.
Dari sisi pendapatan, kedua perusahaan ini mengalami penurunan pendapatan dimana penurunan pendapatan Pertamina relatif tinggi dibandingkan Petronas. Sedangkan Profit margin Pertamina di tahun 2015 sebesar 7.2 persen lebih rendah dibandingkan Petronas sebesar 14.8 persen. Namun demikian, dari sisi profit, penurunan profit Pertamina relatif lebih rendah dibandingkan Petronas. Hal ini menunjukkan adanya upaya efisiensi operasional yang dilakukan Pertamina. Adapun kunci sukses Pertamina dalam melakukan efisiensi adalah optimalisasi kinerja di hulu. Selain itu, optimalisasi kinerja hilir juga berperan dalam mendukung efisiensi yang dilakukan Pertamina.

Kemudian sektor ketiga adalah telekomunikasi. Pada sektor telekomunikasi, terlihat bahwa Telkom Indonesia memiliki progress yang paling baik jika dibandingkan dengan BUMN Malaysia (Axiata dan Telekom Malaysia) dan Singapura (Singtel). Telkom Indonesia mencatatkan perubahan asset (17,94%), perubahan pendapatan (14,24%), perubahan EBT (9,54%) yang paling tinggi jika dibandingkan dengan BUMN telekomunikasi di Malaysia (Axiata dan Telekom Malaysia) serta Singapura (Singtel). Lebih jauh lagi, profit margin Telekom Indonesia pada tahun 2015 juga merupakan yang paling tinggi, yaitu sebesar 30,59%.

Hal yang menarik dari BUMN telekomunikasi milik Singapura dan Malaysia adalah cakupan bisnis yang tidak hanya fokus di negara sendiri. Singtel sebagai contoh telah beroperasi di Singapura dan Australia, selain itu Singtel juga melakukan regional mobile association dengan operator-operator seluler di negara-negara Asia dan Afrika, seperti Telkomsel di Indonesia, AIS di Thailand, dan Globe di Filipina. Sedangkan Axiata beroperasi di lima negara di Asia, yaitu Malaysia, Indonesia, Sri Lanka, Bangladesh, dan Kamboja. Selain itu, Axiata memiliki afiliasi dengan perusahaan seluler di India, Singapura, dan Pakistan.

Sektor terakhir adalah sektor Bandar udara. BUMN Indonesia pada sektor ini adalah Angkasa Pura I dan II. Sedangkan di Malaysia adalah Malaysian Airports Berhad dan di Singapura adalah Changi Airport Group. Walaupun secara total aset dan pendapatan, Angkasa Pura II masih jauh di bawah Changi Airport Group dan Malaysia Airport Berhad, Angkasa Pura II berhasil tumbuh cukup baik dalam hal aset dan EBT. Pertumbuhan asset Angkasa Pura II mencapai 19,07% dan pertumbuhan EBT mencapai 45,67%.

Hal yang bisa dijadikan pembelajaran bagi sektor bandar udara di Indonesia adalah bagaiman perusahaan operator bandar udara di Indonesia dapat mengembangkan portfolio bisnisnya di luar Indonesia sebagaimana yang telah dilakukan Malaysian Airports Berhad dan Changi Airport Group. Changi Airport Group memiliki beberapa portfolio di bidang airport management di luar Singapura, yaitu Tom Jobim International Airport Rio De Janeiro Brazil, Airport of The South Krasnodar Russia, Bengal Aetropolis Projects Ltd India, dan China- Singapore Airport Management Academy. Malaysia Airports Berhad juga memiliki portfolio di bidang airport management di luar Malysia, yaitu Rajiv Gandhi International Airport dan Indira Gandhi International Airport di India serta Istanbul Sabiha Gokcen International Airport di Turki . Jika pengelolaan bandar udara Indonesia sudah semakin baik, ide pengembangan portfolio bisnis di luar Indonesia rasanya perlu dipertimbangkan.

Dari berbagai benchmarking yang telah dilakukan, BUMN di Indonesia masih perlu banyak berbenah. Isu stratejik dalam pembenahan BUMN ke depan adalah pengembangan kapabilitas. Terlebih dengan adanya ASEAN Integration. Untuk menjadi BUMN pemenang di masa depan, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan yang diintisarikan dari berbagai sumber, yaitu hubungan dengan pemerintah, pengaruh eksternal, hubungan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya, pengelolaan internal manajemen, tiga bottom line (keuntungan, sosial, dan lingkungan), penciptaan nilai dengan para pemangku kepentingan, membangun kepercayaan antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, serta inovasi, kepemimpinan, dan fleksibilitas strategi.

Dari berbagai hal tersebut di atas, fondasi yang harus dibangun adalah sinergi. Untuk itu, penting bagi BUMN untuk melakukan pemetaan BUMN agar langkah-langkah sinergi dapat dirumuskan. Adapun pemetaan BUMN dapat dilakukan dengan mempertimbangkan dua aspek, yaitu aspek komersial, yaitu seberapa baik BUMN dalam menghasilkan profit, juga aspek sosial, yaitu bagaimana manfaat secara sosial yang diberikan BUMN. Melalui pemetaan ini, maka penataan BUMN diharapkan akan semakin fokus dan tepat sasaran.