Laporan Kinerja Lembaga Keuangan Indonesia di Region ASEAN
Kinerja lembaga keuangan Indonesia terbilang memiliki competitiveness pada lingkup regional Asia Tenggara, dilihat berdasarkan indikator nilai kapital. Bank- bank Singapura memperoleh top spots dalam ranking Bank Tier 1, akan tetapi bank di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan kinerja yang kuat. Pertumbuhan performa yang signifikan ini didorong oleh kembalinya pertumbuhan ekonomi yang positif di berbagai negara di Asia, khususnya Asia Tenggara.
Tabel 1: Top 15 Asean Banks 2023

Note: data capital merupakan data pada Desember 2022 Sumber: The Banker,
Bank Singapura mendominasi posisi tiga besar (DBS Bank, United Overseas Bank, dan Oversea Chinese Banking Corporation) dalam ranking The Banker’s Top 30 Asean Banks. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada posisi Top 15 dibandingkan periode sebelumnya. Empat bank besar Indonesia, BRI, Mandiri, BCA dan BNI masuk ke dalam peringkat 15 besar di ASEAN berdasarkan capital.
Namun demikian, besarnya potensi kapital dari bank- bank Indonesia dengan masuknya ke peringkat 15 besar Asian Tenggara, perlu diseimbangkan dengan berbagai strategi bisnis dan ekspansi yang sesuai dengan tren global, salah satunya dengan memperkuat sustainable finance khususnya dari sisi pembiayaan atau pinjaman hijau (green loan).
Sustainable Finance Trends
Agenda berbagai negara secara global yang berfokus pada isu lingkungan dan perubahan iklim, memicu investor dan berbagai perusahaan berfokus pada sustainability. Pembiayaan hijau (green finance) meningkat hingga lebih dari 100 kali lipat dalam satu dekade ke belakang. Pembiayaan ini berfokus pada proyek-proyek ramah lingkungan. Berdasarkan riset dari TheCityUK dan BNP Paribas, total portofolio pinjaman global melalui green bonds, loans, dan equity melalui Initial Public Offerings (IPO) untuk proyek hijau, meningkat tajam dari sebesar 5,2 juta dolar AS di tahun 2012 menjadi 540.6 juta dolar AS pada tahun 2021.
Pertumbuhan yang pesat ini tidak terlepas dari upaya pemerintah dan privat untuk mengurangi emisi karbon dan mencapai target Net Zero Emission (NZE) dalam jangka panjang.
Gambar 11: Tren Global Green Finance, 2012-2021 (Juta USD)

Sumber: TheCityUK Analysis, 2022
Berdasarkan data terlihat kontribusi green bonds yang mencapai hingga 93,1 % terhadap total green finance secara global selama dekade terakhir (2012-2021). Total nominal penerbitan green bonds global mencapai 511,5 miliar USD pada tahun 2021, dibandingkan sebesar 2,3 miliar USD pada tahun 2012. China dan Amerika Serikat menjadi dua negara dengan kontributor terbesar, sebesar 13,6% dan 11,6 % secara berurutan.
Gambar 12: Nilai Pasar Sustainable Finance ASEAN, 2020 (Miliar USD)

Sumber: Climate Bonds Initiative & HSBC, 2020
Sementara itu pada lingkup Asia Tenggara, tercatat nilai pasar sustainable finance ASEAN pada tahun 2020 sebesar 29,4 miliar USD. Singapura menempati posisi pertama sebagai negara yang lembaga keuangannya mengalokasikan green finance sekitar 11,9 miliar USD (40,5%). Angka ini dua kali lipat lebih besar dari Indonesia yang menempati posisi kedua dengan nilai sebesar 5,5 miliar USD (18,7%). Sementara itu, Filipina pada posisi ketiga sebesar 4,9 miliar USD (16,7%).
Portofolio hijau Singapura didominasi green loan, social bond dan certified climate bond, selain itu lembaga keuangan Singapura juga didukung dengan capital yang kuat dari bank-bank besarnya. Sementara untuk Indonesia portofolio yang mendominasi adalah sovereign green bond, sustainability bond dan social bond. Indonesia merupakan issuer terbesar untuk green bond yang mencapai 5 miliar USD, yang diikuti Filipina dan Singapura, sebesar 2,9 miliar USD dan 2,3 miliar
USD secara berurutan. Di sisi lain, Singapura menguasai pasar green loan melalui 35 kesepakatan yang mencapai 9,6 miliar USD, diikuti oleh dua negara lain yang juga merupakan issuer green loan yaitu Vietnam dan Malaysia dengan jumlah penyaluran yang relatif kecil. Singapura adalah regional leader di Asia Tenggara dengan 47 kesepakatan, yang terdiri dari 12 green bond dan 35 green loan.
Global Outlook on Sustainable Finance
Kebijakan implementasi Keuangan Berkelanjutan (Sustainable Finance) tumbuh signifikan dan semakin kompleks dalam beberapa periode terakhir.
Perkembangan ini yang mendorong lembaga keuangan dan investor secara global untuk mempertimbangkan isu Environmental, Social and Governance (ESG) dan mengantisipasi risiko perubahan iklim.
Perkembangan Kebijakan Sustainable Finance dapat dibagi menjadi empat fase utama, yaitu (1) peningkatan kesadaran (raise awareness); (2) penetapan strategi (define sustainable finance); (3) peningkatan transparansi (increase transparency); dan (4) tindakan mitigasi (enforce action). Empat fase ini diperlukan untuk menciptakan pasar keuangan berkelanjutan yang kuat dan berjalan sebagaimana mestinya.
Gambar 13: Framework Pengembangan Kebijakan Sustainable Finance

Sumber: BloombergNEF, 2023
Sementara itu, posisi setiap negara atas implementasi kebijakan Keuangan Berkelanjutan terbilang bervariasi, sebagian besar negara G20 masih berada pada tahapan peningkatan kesadaran (raise awareness), termasuk Indonesia. Di sisi lain, hanya beberapa negara yang telah menerapkan mandat untuk climate risk disclosure atau climate actions, seperti negara-negara Uni Eropa, Inggris, Jepang dan Brazil.
Gambar 14: Tahapan Implementasi Sustainable Finance di Berbagai Negara

Sumber: BloombergNEF, 2023
Dalam kurun waktu dua tahun, climate risk disclosure yang mengacu pada Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD) diprediksi akan mengalami kemajuan dalam implementasinya di berbagai negara seperti New Zealand, Australia, Swiss, Kanada dan Kolombia. Kebijakan untuk ESG disclosures akan diluncurkan dan diperbaharui di Inda, Jepang, Uni Eropa, dan Brazil. Kebijakan climate risk integration policies akan menjadi prioritas di Afrika Selatan, Kanada dan Amerika Serikat13. Sementara Indonesia sendiri masih berada pada tahapan peningkatan awareness, serta lembaga keuangan, terutama perbankan telah melakukan inovasi untuk berfokus pada ESG dan juga pembiayaan proyek-proyek yang lebih sustainable.
