Miliki Mayoritas Saham PT Vale, Pengamat: MIND ID Harus Tempatkan Orangnya di Posisi Strategis
BUMNINC.COM I Pengamat BUMN Research Group Lembaga Manajemen FEB UI, Toto Pranoto mengatakan, Holding BUMN Tambang MIND ID harus menempatkan orang-orangnya di posisi strategis usai menjadi pemegang saham mayoritas PT Vale Indonesia Tbk (INCO). “Salah satunya bisa mengisi jabatan direktur operasi,” kata Toto, kemarin.
Toto menyampaikan itu menanggapi rencana MIND ID mengambil alih 14 persen saham PT Vale Indonesia yang dilepas Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd (SMM). Dengan rencana itu, kepemilikan saham MIND ID di Vale Indonesia dari sebelumnya 20 persen menjadi 34 persen. Hal ini menjadikan MIND ID pemegang saham mayoritas.
Selain posisi itu, Toto menilai, MIND ID bisa mengisi posisi direksi yang membawahi hubungan kelembagaan tuk memudahkan akses Vale terhadap pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.
Menurut Toto, penempatan posisi strategis penting untuk memudahkan MIND ID melakukan sinkronisasi kegiatan bisnis dengan Vale.
Di samping itu, Toto menilai, peningkatan porsi saham itu akan membuat posisi BUMN semakin kuat. MIND ID akan memiliki posisi tawar di Vale. “Sedangkan, bagi pemerintah, posisi itu akan mempermudah dalam implementasi hilirisasi komoditi mineral,” kata Toto.
MIND ID menyiapkan pendanaan sekitar US$300 juta atau setara dengan Rp4,69 triliun (asumsi kurs Rp15.635 per US$) untuk mengakuisisi 14% saham asing PT Vale Indonesia Tbk (INCO). MIND ID bersama dengan pemegang saham asing INCO, Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co. Ltd. (SMM) menyepakati harga akuisisi 14% saham INCO di angka Rp3.050 per lembar saham. “Total investasi US$300 juta, bayarnya Juni dan ada yang lewat mekanisme pasar modal,” kata Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso dikutip Bisnis.com, Senin kemarin.
Transaksi divestasi itu bakal dilunasi Juni 2024. Sebagian besar pendanaan berasal dari sumber internal, sisanya lewat penerbitan saham baru. Sementara ihwal penerbitan utang, dia menuturkan, hitung-hitungan nominal pinjaman untuk pembayaran divestasi itu masih dikaji holding tambang pelat merah saat ini.
“Kita masih excersise belum bisa kita tetapkan sekarang,” tuturnya.
