Telkom Siapkan Data Distribusi Vaksin Corona, Begini Tantangannya Kata Pakar
BUMNINC.COM I PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. dinilai akan menghadapi tantangan cukup berat dalam menghadirkan aplikasi untuk distribusi vaksin Covid-19. Pasalnya, masih sedikit sumber daya manusia (SDM) yang andal dalam menciptakan dan menggunakan aplikasi.
Ketua Bidang Infrastruktur Broadband Nasional Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Nonot Harsono mengatakan sebagai operator aplikasi, Telkom harus dapat membuat sistem validasi yang canggih agar distribusi vaksin tepat sasaran.
Sebab, kata dia, vaksin sebagai barang yang sangat dibutuhkan saat ini, harus memiliki sistem validasi pengiriman dan penerimaan yang ketat, seperti validasi dengan sistem sidik jari.
“Karena nanti ada kaitannya dengan apakah vaksin tersebut ada penyalahgunaan atau tidak. Sampai tidak ke masyarakat. Aplikasinya itu harus memiliki sistem validasi berlapis,” kata Nonot, Selasa (8/12/2020) dikutip dari Bisnis.com.
“Bisnis teknologi seperti bisnis restoran, tukang masaknya selalu dibajak. Kita berpikir positif kalau Telkom menyanggupi maka ada SDM-nya,” kata Nonot menambahkan.
Menurut dia, permasalahan sumber daya manusia merupakan permasalahan akut di industri teknologi di Tanah Air. Dalam bidang teknologi apapun, selalu ada gap antara pertumbuhan teknologi dengan talenta digital yang terdapat di Indonesia.
Diinformasikan sebelumnya, pemerintah menunjuk PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) untuk membangun sistem informasi vaksinasi Covid-19 bersama PT Bio Farma. Sistem ini disiapkan untuk mengintegrasikan data dari berbagai sumber serta menghindari informasi data ganda.
Direktur Digital Business PT Telkom Muhamad Fajrin Rasyid mengatakan sistem ini akan memfilter data individu penerima vaksin prioritas dengan sistem by name by address. Sistem ini juga menjadi aplikasi pendaftaran vaksin pemerintah dan mandiri.
“Sistem ini akan memetakan suplai dan distribusi vaksin dengan lokasi vaksinasi,” kata Fajrin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin, 7 Desember 2020. Menurut dia, perangkat ini berguna untuk memonitor hasil vaksinasi. Sistem informasi satu data ini juga penting untuk mengawali revolusi dunia kesehatan nasional.[]




