Asal Berkelanjutan, Pariwisata di Nusa Tenggara Tidak Ada yang Dirugikan
Untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) pariwisata yang ideal, literasi pariwisata perlu dibangun sejak awal.
- Literasi Pariwisata untuk Masyarakat Sekitar
ndidikan dan pelatihan ini bisa berlangsung apabila ada kerja sama dan koordinasi multisektor dari para pelaku tersebut.
Tujuannya agar mereka memiliki basis literasi pariwisata yang sama, di samping softskill lainnya, seperti kemampuan berbahasa dan kemampuan kepemanduan wisata tentunya.
Hasil survei daring Digital Traveler Research tahun 2018 yang dikutip dari Harian Kompas pada Senin (15/2/2021) menyebutkan, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia sebagai negara dengan jumlah wisatawan yang cakap dalam memanfaatkan teknologi digital.
Transformasi ini perlu diperhatikan SDM kepariwisataan, khususnya untuk pengembangan pariwisata berbasis digital.
Penggunaan media sosial sebagai sarana promosi yang telah dirintis Dinas Pariwisata NTT perlu diperluas untuk menjangkau kaum milenial, termasuk berkolaborasi dengan influencer.
Selain itu, ada pula terobosan baru, yanag barang kali masih asing bagi pariwisata Indonesia. Yakni pemanfaatan Virtual Reality (VR).
Di tengah pandemi yang menyurutkan kegiatan pariwisata, panduan yang dirilis World Tourism Organization (UNWTO) pada Mei 2020 memberikan harapan untuk merebut kembali kepercayaan pengunjung. Inovasi dan penerapan standar kesehatan yang tinggi adalah dua kunci memulihkan industri pariwisata.
