Bank BTN Cetak Laba Rp1,47 Triliun Pada Semester I 2022
Kenaikan kredit berdampak pada pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang tumbuh 35,97 persen pada semester I 2022 menjadi Rp7,74 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,69 triliun. Lonjakan NII tersebut membuat rasio net interest margin (NIM) Bank BTN juga mengalami kenaikan dari 3,41 persen pada akhir Juni 2021 menjadi 4,58 persen pada semester I 2022.
Dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), Haru menyampaikan pada semester I 2022 perolehan DPK Bank BTN mencapai Rp307,309 triliun, naik 2,99 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp298,378 triliun. Dari jumlah tersebut perolehan dana murah atau CASA mencapai Rp137,453 triliun, naik sebesar 22,95 persen dibandingkan akhir Juni 2021 sebesar Rp111,798 triliun.
“Kenaikan CASA yang cukup tinggi tersebut membuat kontribusi dana murah mengalami kenaikan menjadi 44,73 persen dari total DPK Bank BTN pada semester I 2022,” ujar Haru.
Haru menambahkan, kenaikan dana murah Bank BTN berhasil menekan biaya dana atau cost of fund Bank BTN pada semester I 2022 menjadi 2,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,45 persen. Fokus Bank BTN dalam menggenjot perolehan dana murah dan memangkas dana mahal, telah membuat total deposito perseroan mengalami penurunan 8,96 persen menjadi Rp169,86 triliun pada semester I 2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp186,58 triliun.
Sejalan dengan pertumbuhan bisnis konvensional, laba bersih Unit Usaha Syariah (UUS) Bank BTN atau BTN Syariah juga tumbuh positif pada semester I 2022. Laba bersih UUS BTN tersebut tercatat melonjak 118,06 persen dari Rp87,54 miliar pada semester I 2021 menjadi Rp190,9 miliar pada periode yang sama tahun ini.
Capaian positif BTN Syariah tersebut didukung pertumbuhan bisnis yang stabil. Pada semester I 2022, pembiayaan syariah tercatat tumbuh 8,86 persen menjadi Rp29,24 triliun dibandingkan akhir semester I 2021 sebesar Rp26,86 triliun.
Sementara total DPK yang berhasil dihimpun BTN Syariah mencapai Rp30,49 triliun, tumbuh 13,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp26,89 triliun. Dengan capaian tersebut, aset BTN Syariah berhasil tumbuh 13,78 persen menjadi Rp40,35 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp35,46 triliun.
