Bunda, Anak Sekarang Main Gadget Itu Naluriah, Jangan Kasih Omelan Pemahaman Ini yang Diperlukan
BUMNINC.COM | Digitalisasi sudah jadi keniscayaan. Begitu sulit menolak eksistensinya. Pengaruhnya terhadap kehidupan di Bumi, baik secara antropologis maupun fisik alamiah semuanya terpengaruh.
Uniknya digitalisasi tidak secara langsung bertindak menggantikan hal-hal materil, fungsinya dapat dianalogikan sebagai jembatan. Ia menghubungkan, mengadopsi atau adaptasi segala yang berbentuk menjadi maya dan virtual.
Hal lainnya dari digitalisasi ini, lompatan teknologi semakin pendek. Dalam arti, perubahan-perubahan teknologi yang berdampak luas terjadi lebih cepat ketimbang sebelumnya.
Jauh-jauh hari, tokoh-tokoh penting seperti Yuval Noah Harari, atau Claus Schwab keduanya adalah orang-orang yang konsen dala mengamati perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap manusia, bahkan lebih luas -kehidupan di Bumi.
Hal-hal itu mungkin, dalam kacamata dua tokoh penting itu, kata kuncinya adalah “data”. Berawal dari manusia yang semakin sensitif terhadap data, kemudian tercipta alat-alat dan komputer-komputer yang daya simpannya terus membaik.
Hal itu memudahkan manusia untuk mengolah, menganalis, memprediksi, dan mengambil tindakan serta keputusan. Lalu apa setelah itu?
Perubahan yang cepat ini bukan hal mudah dilalui manusia. Misalnya pola sosial yang baru dan lain sebagainya. Itu menghasilkan pertanyaan ulang, bagaimana selayaknya manusia bisa bertahan dalam kehidupan yang serba cepat ini.
Tian Belawati, Guru Besar Universitas Terbuka mengunkapkan anak-anak hari ini adalah anak-anak yang sudah ada dalam generasi baru, yakni Generasi Alpha. Ciri khas paling kentara dari generasi ini adalah keterikatannya dengan budaya digital dan gadget.
Jika generasi sebelumnya melihat gadget sebagai style, generasi ini sudah mengintuisi teknologi layar tersebut.
