Cek and Ricek Mitos Vaksin Covid-19 yang Kerap Beredar
BUMNINC.COM | Seperti diketahui, pemerintah tengah menggalakkan program vaksinasi virus Covid-19. Hal itu dinilai akan menjadi salah satu game changer pemulihan situasi nasional. Baik sosial, ekonomi dan sebagainya.
Saat program vaksinasi massal pun tengah dimulai. Namun, hingga kini masih saja sering terjadi disinformasi mengenai dampak dari vaksin tersebut.
Memang, tim satgas penanganan Covid-19 merilis bahwa vaksinasi ini adakalanya memiliki implikasi ke beberapa jenis kondisi.
Efek samping ini disebut sebagai KIPI, yakni kejadian medis yang dapat terjadi setelah imunisasi, terkait atau tidak terkait dengan vaksin, yang sifatnya tidak terduga atau berbahaya.
Tapi, KIPI tersebut kerap disalahartikan sebagai efek samping yang menyerang seluruh pengguna vaksin. Barangkali memang menciptakan beberapa efek samping yang biasanya ringan dan bersifat reaktogenik.
Berikut, beberapa mitos vaksin yang dirangkum oleh BUMNINC:
Melalui Times of India:
- Pengaruhi Kesuburan Perempuan
Vaksin Pfizer mengakhiri uji klinis fase III menggunakan pendekatan mRNA baru yang melatih sistem kekebalan untuk ‘mengenali’ strain penyebab penyakit. Uji klinis tersebut melibatkan 30.000 sukarelawan yang hasilnya tidak ada reaksi merugikan atau efek samping yang memengaruhi fungsinya.
Vaksin ini, berdasarkan hasil uji lab, mengindikasikan hasil tingkat efektifitas tertinggi, yakni di atas 97 persen.
Sebagian besar uji coba diatur di bawah lingkup Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan tunduk pada norma-norma yang sangat ketat. Uji coba juga tidak membedakan antara relawan pria dan wanita.
Oleh karena itu, kemungkinan adanya vaksin yang buruk hanya untuk satu jenis kelamin belum bisa dibuktikan. Selain itu, hingga saat ini tidak ada relawan perempuan yang menyatakan bahwa vaksin menyebabkan efek samping parah.
- Memperbesar Alat Kelamin
Studi asli yang diterbitkan pada ‘The New England Journal of Medicine berjudul ‘Phase 1-2 Trial of a SARS-CoV-2 Recombinant Spike Protein Nanoparticle Vaccine’ telah diedit menjadi ‘SARS-CoV-2 Recombinant COVID-19 Vaccine has shown to increase penis lenght by 3 inches in some individuals’.
Salah satu bukti bahwa studi itu telah diedit terlihat dari adanya kesamaan metode yang digunakan dalam jurnal palsu tersebut. Hasil penelusuran di situs NEJM juga tidak ditemukan jurnal berjudul ‘SARS-CoV-2 Recombinant COVID-19 Vaccine has shown to increase penis lenght by 3 inches in some individuals’.
Menurut pemeriksaan fakta Pesacheck.org, yang dikutip Kominfo, unggahan yang beredar di Facebook tersebut adalah hoaks. Disebutkan bahwa foto itu pertama kali dibuat dengan menggunakan ‘Break Your Own News’ dengan tujuan parodi saja.
‘Break Your Own News’ merupakan situs untuk membuat meme yang menggunakan format ‘breaking news’.


