Investor Swiss Optimistis Hubungan dagang dengan Indonesia
Dukungan mayoritas 51,6 persen pemilih atas IE–CEPA adalah kabar positif bagi hubungan perdagangan Indonesia dan Swiss, juga bagi integrasi ekonomi Indonesia dengan negara-negara EFTA. Hasil referendum ini juga merupakan afirmasi Indonesia dan negara-negara EFTA untuk mengedepankan kerja sama, bukan mengutamakan kompetisi atau konfrontasi, termasuk dalam memperlakukan isu-isu keberkelanjutan.
Mendag Lutfi lebih lanjut menekankan bahwa referendum ini memiliki makna khusus bagi upaya Indonesia dan Swiss untuk memastikan agar perdagangan yang terbuka dan adil menjadi pilar dalam perjanjian dagang. Swiss adalah mitra dagang dan ekonomi penting bagi Indonesia, begitu juga sebaliknya. “Perdagangan kedua negara akan makin meningkat lagi,” ujar Mendag Lutfi.
Dengan diratifikasinya IE–CEPA oleh Swiss, Indonesia juga akan segera mempercepat proses ratifikasinya di DPR sehingga implementasi IE–CEPA dapat segera terlaksana. Indonesia dan negara-negara EFTA (Swiss, Norwegia, Islandia, dan Liechtenstein) berkomitmen meningkatkan perdagangan demi pemulihan ekonomi, termasuk peningkatan investasi dan mendukung industrialisasi di Indonesia. Perjanjian IE–CEPA sendiri telah ditandatangani pada 16 Desember 2018 di Jakarta.
Dari sisi ekspor nonmigas, pada 2020 ekspor Indonesia ke EFTA mencapai USD 2,45 miliar dan impor dari EFTA tercatat sebesar USD 830 juta. Kondisi tersebut menyumbang surplus bagi neraca perdagangan nonmigas Indonesia sebesar USD 1,62 miliar. Masih dari sisi nonmigas, sebesar 97,77 persen ekspor Indonesia ke EFTA diserap oleh Swiss. Di sisi lain, impor Indonesia dari EFTA datang dari Swiss sebesar 81,33 persen.[]





