Jokowi: Harga Transisi Energi Baru Terbarukan Sangat Besar
Namun, dia menegaskan, potensi energi baru terbarukan di Indonesia mencapai 418 giga watt (GW). Hal itu meliputi pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), hingga solar panel.
“Namun, sekali lagi kita [Indonesia] memiliki potensi yang sangat besar sekali. Sungai, hydropower dari sungai (PLTA), Indonesia memiliki 4.400 sungai yang besar maupun yang sedang, yang bisa kita pakai untuk hydropower. Namun, investasinya besar sekali,” katanya.
Dia mencontohkan Sungai Kayan di Kalimantan punya potensi sebesar 13 ribu megawatt (MW) dan Sungai Membrano di Papua sebesar 24 ribu MW.
Menurutnya, banyak investor yang mau menanamkan dana di sektor EBT di Indonesia. Jika investasi itu berjalan lancar, maka dampaknya akan bagus untuk transisi energi di Indonesia.
“Namun, kalau tidak jalan, kami harapkan global. Nombok gratisan tidak mungkin. Kami sudah bicara dengan Bank Dunia, investor dari Inggris waktu di Glasgow, pertanyaan pasti ke sana, siapa yang menanggung itu,” tuturnya.
Oleh karena itu, Jokowi meminta semua pihak bekerja sama membuat skenario transisi energi di Indonesia. Hal itu agar prosesnya bisa dipercepat dari target yang ditentukan, yakni 2060 mendatang.
Lebih lanjut, dia mengatakan akan menyampaikan secara tegas ihwal kebutuhan dana terkait transisi energi kepada para pemimpin G20 di Forum KTT G20, di Bali, pada 2022.
“Saya akan ngomong ke semua pemimpin G20, saya tidak mau kita bicara lagi kayak 2 tahun lalu, kayak setahun lalu, saya ingin pertanyaannya ini, ada kebutuhan dana sekian, caranya apa yang bisa kita lakukan, kalau ada berarti bisa menyelesaikan transisi energi, kalau ndak ya kita nggak usah bicara. Pusing tetapi nggak ada hasilnya,” kata Jokowi.[]
