Kereta Cepat Jakarta-Bandung: dari Molor, Biaya Bengkak hingga Ratusan Ton Besi Dicuri
BUMNINC.COM I Kondisi proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung saat ini dalam kondisi buruk. Berbagai masalah menerpa proyek kerja sama antara Indonesia dan China itu mulai dari lambatnya pekerjaan, biaya yang membengkak, dan ratusan ton besi dicuri.
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mulanya memperkirakan biaya investasi Kereta Cepat Jakarta Bandung adalah sebesar 6,07 miliar dollar AS atau sekitar Rp 86,5 triliun. Namun, biayanya membengkak atau mengalami cost overrun (kelebihan biaya) menjadi 8 miliar dollar AS atau setara Rp 114,24 triliun. Dengan kata lain, pembengkakannya mencapai Rp 27,74 triliun.
Selain itu, target penyelesaian molor dari tahun 2019 mundur ke tahun 2022. Agar proyek tidak sampai mangkrak, pemerintah menambal kekurangan dana dengan duit APBN melalui skema penyertaan modal negara (PMN) pada BUMN yang terlibat di proyek tersebut.
Kementerian Keuangan mencairkan duit APBN untuk proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung sebesar Rp 4,3 triliun. Dengan tambahan uang pajak, maka PT KCIC bisa memenuhi kebutuhan base equity agar utang dari China bisa cair.
“Ini proyek KCJB yang business to business (B to B). Makanya, pemerintah memasukkan Rp 4,3 triliun dalam rangka memenuhi base equity (setoran saham) penyelesaian kereta api cepat Jakarta-Bandung,” kata Sri Mulyani dalam keterangannya dikutip pada Kamis 11 November 2021.
Dia menyebutkan, suntikan modal untuk Kereta Cepat Jakarta Bandung itu masuk dalam suntikan modal untuk PT KAI sebesar Rp 6,9 triliun tahun 2021.
Selain untuk mendanai proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung, uang APBN itu sisanya digunakan PT KAI untuk membiayai proyek LRT Jabodetabek yang juga mengalami pembengkakan biaya. Tanpa tambahan dana dari APBN, pinjaman China untuk perusahaan konsorsium Kereta Cepat Jakarta Bandung sulit dicairkan dari China.
“Sebetulnya proyek ini jalan berdasarkan pinjaman dari CDB (China Development Bank) dan dia mencairkan. Sampai suatu titik tertentu enggak bisa dicairkan karena tidak ada ekuitas yang mendukungnya atau ekuitasnya sudah habis. Jadi sekarang ini proyek enggak mungkin bisa jalan either melalui pinjaman,” ujar Sri Mulyani.
