Relasai BPJS Kesehatan dan Budaya Bangsa
Kontribusi BPJS Kesehatan terhadap perbaikan kesehatan masyarakat terus meningkat sejak kali pertama diluncurkan pada 2014. Kohesivitas sosial meningkat 13,6 persen pada 2015 dan meningkat menjadi 14 persen di tahun berikutnya.
“BPJS Kesehatan secara tak langsung memberi perlindungan finansial keluarga dan mencegah kemiskinan, meningkatkan usia harapan hidup sebesar 1 persen atau menambah usia seseorang sekitar 0,31 tahun,” ujar Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris.
Besarnya biaya medis seperti operasi jantung, cuci darah, atau penyakit berat lainnya menjadi ringan karena ditanggung BPJS Kesehatan. Karena itu masyarakat tak perlu pusing mengeluarkan biaya besar dan akhirnya terhindar dari pemiskinan.
Menurut Fachmi, masyarakat telah merasakan manfaat besar dengan kehadiran BPJS Kesehatan. Pada 2019 tercatat 756.515 kunjungan per hari ke fasilitas kesehatan. Total pemanfaatan dalam enam tahun penyelenggaraan jaminan kesehatan sebesar 1,1 miliar pemanfaatan.
Sejumlah manfaat telah dirasakan masyarakat berkat kehadiran BPJS Kesehatan. Bahkan, pemerintah mengucurkan dana bantuan kepada peserta JKN-KIS yang tak mampu. Data pada Januari-April 2020, sekitar 96 juta orang mendapatkan manfaat dari Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari APBN dan lebih dari 35-37 juta orang dalam PBI APBD.
Artinya, terdapat 133 juta kepesertaan JKN penerima bantuan dari total 222 juta orang, atau lebih dari 50 persen.“Komposisi kepesertaan JKN sebenarnya banyak yang iurannya dibayarkan pemerintah. jadi pemerintah mengeluarkan anggaran cukup besar,” kata Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), Iene Muliati.[]
