Dampak Perang Rusia Ukraina pada Bisnis di Asia
Antara lain sanksi ekonomi berupa dikeluarkannya bank di Rusia dari sistem SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication ). Sistem ini merupakan jaringan keamanan tinggi yang menghubungkan ribuan lembaga keuangan di seluruh dunia. Ini akan berdampak sulitnya bank di Rusia mencari akses pendanaan untuk kebutuhan ekspor maupun impor. Kemudian negara sekutu AS seperti Inggris, Jerman, Kanada, dan Jepang juga membuat sanksi ekonomi tersendiri.
Dampak Perang Rusia Ukraina bagi Bisnis di Asia
Dikutip dari Nikkei Asia, ada beberapa dampak signifikan yang terjadi. Pertama tentu kenaikan harga minyak dan gas yang melambung tinggi. Sejak hari pertama perang terjadi maka harga rujukan minyak WTI crude future langsung menyentuh level 100 dolar AS/barel. Rusia adalah eksportir minyak terbesar kedua di dunia setelah Saudi Arabia. Muncul kekhawatiran Rusia akan mengurangi ekspor migasnya.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak berdampak positif pada harga saham produsen minyak lainnya. Misalnya saja Medcoyang harga sahamnya melonjak 12 persen sehari setelah perang terjadi. Kenaikan saham juga dinikmati Elnusa,AKR, dan PTT milik Thailan.
Dampak kedua adalah pada sektor pariwisata dan transportasi. Sejak perang terjadi maka wilayah udara Rusia dan Ukraina dianggap zona berbahaya, sehingga maskapai penerbangan diminta menghindari wilayah tersebut.
Maskapai besar seperti JAL sudah menghentikan rute Tokyo-Moscow, demikian pula sanksi antara Rusia dan Inggris yang terpaksa menghentikan operasi maskapai BA dan Aeroflot di kawasan tersebut. Harga saham JAL dan Singapore airlines kompak turun enam persen. Beberapa negara seperti Thailand yang baru memberlakukan kebijakan bebas karantina bagi turis jelas terpukul hebat, apalagi jumlah wisatawan Rusia termasuk cukup dominan.
