Dirut Pelindo II Ungkap Kolaborasi Pelabuhan Patimban dan Tanjung Priok
Pembangunan Terminal Kali Baru di Tanjung Priok tahap selanjutnya meliputi area reklamasi dan breakwater seluas 178 hektare. Saat ini untuk terminal container tahap satu sudah beroperasi dengan kapasitas 1,5 juta TEUs. Ke Depan tambahan kapasitas terminal akan meningkat secara bertahap mencapai 10 juta TEUs di 2027. Adapun pembangunan proyek ini akan dilanjutkan pada kuartal I tahun 2021.
Nantinya terminal baru ini akan berhubungan dengan akses baru NPEA yang mengkoneksikan Pelabuhan Kali Baru dengan jalan tol Cibitung – Cilincing dengan Kawasan industri di Timur Jakarta.
“NPEA (New Priok East Akses) akan mengkoneksikan Pelabuhan Kali Baru dan Tol Cibitung – Cilincing sehingga akses dari timur ada jalan tol Jakarta – Cikampek, utara ada JOR,” katanya.
Namun, dalam eberapa bulan terakhir harga logistik kapal dikatakan terus meningkat akibat dari adanya kelangkaan kontainer di pelabuhan yang disebabkan sepinya arus perdagangan di beberapa jalur. Selain itu, ternyata ada masalah lain yang membuat harga logistik kapal tinggi.
Arif Suhartono mengatakan ada tiga masalah yang membuat harga logistik ini meningkat. “Pertama performa dari Pelabuhan dari infrastruktur yang berimbas pada service yang lambat,” katanya.
Kedua shipping line dan shipping road yang tidak optimal yang berimbas kepada service. Sebagai gambaran kapal vessel terbesar di dunia itu mencapai 25 ribu TEUs atau setara empat kali lapangan sepak bola, sementara di Indonesia hanya 3500 TEUs.
“Itu pun tidak terisi semua secara maksimal,” katanya.
Selain itu adanya inefisiensi transportasi di darat dan cargo imbalance akibat rendahnya konektivitas antar Pelabuhan dan jeleknya infrastruktur di hinterland.
Lalu, akibat adanya pandemi Covid-19 membuat arus peti kemas juga menurun. Dari perusahaannya hingga November arus peti kemas turun mencapai 9,5 persen. Sementara secara global arus peti kemas juga menurun mencapai 11,3%.




