eski Nyaman, Malas Gerak Berbahaya Bagi Kesehatan
BUMNINC.COM I Gaya hidup sedentari atau minim menggerakkan badan merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. Demikian catat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Gaya hidup sedentari umumnya dijalani oleh pekerja kantoran. Mereka biasanya duduk lama ketika bekerja di depan komputer atau di balik meja, duduk atau berdiri di perjalanan pulang ke rumah, hingga rebahan setibanya di rumah. Selain pekerja kantoran, ada pula orang yang memang terbiasa dan nyaman dengan gaya hidup sedentari. Bahkan jadi cenderung malas gerak (mager).
Belum lagi, teknologi digital semakin canggih di tengah pandemi COVID-19 ini—yang membatasi kegiatan di luar ruangan. Kini seseorang bisa menyelesaikan beragam urusan hanya dengan sentuhan di layar ponsel, misalnya memesan makanan, membeli barang kebutuhan sehari-hari, dan sebagainya. Nah, kalau tak punya self-control, kemudahan yang ada saat ini malah bisa membuatmu jadi mager-an alias pemalas, lo.
Meski nyaman, gaya hidup sedentari ternyata bisa meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, lo. Apalagi jika dibarengi dengan pola makan tak seimbang dan kebiasaan tak sehat, seperti merokok dan minum alkohol. Kamu yang menjalani hidup sedentari mesti tahu risikonya, nih. Dengan begitu, Kamu bisa mempertimbangkan apakah masih akan mempertahankan gaya hidup ini atau tidak. Nah, memang apa saja sih risiko menjalani gaya hidup sedentari?
1. Konsentrasi menurun
Tulang belakang bisa menegang karena kelamaan membungkuk saat duduk. Nah, kondisi ini membuat paru-paru tak mendapat cukup ruang untuk mengembang lebih besar alias terhimpit. Alhasil, Kamu menerima lebih sedikit oksigen. Hal ini akan mengganggu sirkulasi oksigen, yang memungkinkan otak minim menerima oksigen. Nah, minimnya oksigen yang diterima otak ini bisa menurunkan konsentrasi. Akibatnya, Kamu jadi tak fokus.
2. Penurunan kognitif
Dalam jangka panjang, minim aktivitas fisik bisa menurunkan fungsi otak. Sementara itu, beraktivitas fisik seperti olahraga bisa merangsang aliran darah yang penuh oksigen menuju otak, serta memperbaiki sel dan jaringan otak yang mulai rusak. Hal ini membantu mempertajam otak dan daya ingat.
