HK e-Index, Alat Ukur Kecukupan Kapasitas Pembangkit Listrik Unggulan Hutama Karya
Saat ini, rasio elektronifikasi nasional di Indonesia sudah mencapai 99,2 persen, dan ditargetkan dapat mencapai 99,9 persen di akhir tahun 2021.
Sedangkan, tingkat rasio yang ada tidak menjamin kesejahteraan ekonomi karena rasio elektronifikasi 100 persen bukan berarti telah meratanya pasokan listrik di tanah air.
“Jika Indonesia ingin meningkatkan taraf kesejahteraan, di mana Indonesia juga sudah diprediksi akan menjadi 4 negara besar di tahun 2045, maka yang harus kita kejar adalah keterjangkauan dan ketersediaan pembangkit listrik di negeri kita,” kata Novias Nurendra.
HK e-Index dapat menjadi solusi dari tantangan tersebut dengan menjadi alternatif pengukuran target jumlah pembangkit yang masih perlu dibangun di Indonesia dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Penghitungan HK e-Index sendiri diperoleh dengan membagi kapasitas pembangkit di sebuah negara dengan jumlah penduduknya. Melalui penghitungan ini, tim riset Hutama Karya berupaya menjawab jumlah pembangkit listrik yang dibutuhkan Indonesia dalam perkembangannya di periode tahun mendatang.
Dari riset yang telah dilakukan oleh tim HK Connection, terlihat HK e-Index dari beberapa negara maju seperti Jerman, Jepang, Singapura dan Korea Selatan berada di kisaran poin 2,2 – 2,6. Sedangkan, negara berkembang dengan sektor energi yang baik seperti Cina dan Malaysia memiliki Index 1,1 – 1,4.
Sementara, HK e-Index Indonesia saat ini masih berada di angka 0,26. Angka yang kecil jika dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki GDP (Gross Domestic Product) di atas USD 10.000 per kapita, sehingga masih terdapat pekerjaan yang sangat besar untuk mengejar ketertinggalan ini.
