Ikan Sebagai Kearifan Lokal dalam Pemberdayaan Anak Muda Nusa Tenggara
BUMNINC.COM | Melalui program Mata Kail, sebanyak 2.000 anak muda di tiga kabupaten di Nusa Tenggara Timur terlibat dalam usaha perikanan berkelanjutan.
Anak muda di Nusa Tenggara tersebut diikutsertakan dalam bidang produksi dan pengolahan ikan tangkap, selain pendidikan mengenai konsumsi dan produksi ikan secara sehat.
Mereka diperkenalkan alat teknologi perikanan, juga mendapatkan bantuan akses ke bank, sehingga mulai menikmati hasil.
Program tersebut diselenggarakan Plan Indonesia. Merupakan perpanjangan tangan Organisasi Nirlaba Plan Internasional. Sebuah organisasi pembangunan dan kemanusiaan independen yang berkarya di 71 negara di seluruh dunia, yang meliputi Afrika, Amerika dan Asia untuk memajukan hak anak dan kesetaraan bagi perempuan.
Direktur Eksekutif Yayasan Plan Indonesia Dini Widiastuti pada penutupan program Mata Kail (Mari Kita Kreatif agar Ikan Lestari) oleh Plan Indonesia secara virtual dari Jakarta, Selasa (2/2/2021), mengatakan, Program Mata Kail didanai Uni Eropa sejak awal 2018.
Selama tiga tahun program ini berjalan, Yayasan Plan Indonesia bekerja sama dengan mitra lokal, yakni Kopernik serta Bengkel Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung.
Program Mata Kail mendorong 2.000 anak muda di Sikka, Lembata, dan Nagekeo memulai usaha di bidang pengolahan ikan tangkap yang berkelanjutan. Sebanyak 1.137 perempuan muda dan 863 laki-laki muda usia 15-29 tahun telah menerima pelatihan wirausaha di sektor pengolahan ikan.
”Selama tiga tahun itu, sebagian besar dari mereka sukses terlibat di bidang wirausaha berupa pengolahan ikan tangkap berkelanjutan,” kata Dini.
Dari jumlah 2.000 anak muda itu, 863 orang terlibat langsung sebagai nelayan dan 1.137 orang sebagai pengelola. Nelayan berkelanjutan ini menjual ikan hasil tangkapan kepada pengelola berkelanjutan.
Para nelayan ini juga memiliki tugas menularkan sistem penangkapan ikan berkelanjutan bagi nelayan sekitar, yang selama ini sering menggunakan bom ikan dan alat tangkap yang dilarang, seperti pukat hela (trawl), pukat hela dasar (bottom trawl), cantrang, dan lampara dasar.
Kapal pengawas sumber daya kelautan dan perikanan di NTT, Sabtu (9/1/2021). Meski ada kapal pengawas, kasus pencurian dan pengeboman ikan terus terjadi di sejumlah kabupaten di NTT.
Ia menyebutkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik NTT pada Februari 2020, provinsi ini tercatat memiliki tingkat pengangguran terbuka sebanyak 73.750 orang, sebagian besar adalah usia produktif. Pemberdayaan 2.000 anak muda di tiga kabupaten itu sebagai salah satu upaya menekan angka pengangguran.
Sebagai provinsi termiskin ketiga di Indonesia, dengan angka sekitar 1,3 juta jiwa, NTT perlu melakukan berbagai terobosan agar bisa keluar dari masalah itu meski di tengah pandemi Covid-19.
NTT, sebagai provinsi kepulauan, kaya akan sumber daya ikan. Melibatkan 2.000 anak muda di bidang kewirausahaan melalui pengolahan ikan tangkap berkelanjutan menjadi salah satu program utama Plan Indonesia.
Mereka juga diwajibkan menularkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki selama tiga tahun pelatihan kepada kaum muda di sekitar mereka, terutama yang memiliki minat di bidang usaha ini.
Penerima program Mata Kail diharapkan menerapkan prinsip-prinsip produksi dan konsumsi berkelanjutan di sektor ekonomi yang sangat potensial di NTT. Dalam pelatihan, mereka juga didorong terus berinovasi memperkenalkan produk-produk perikanan secara variatif kepada konsumen.
