Ini Alasan Garuda Indonesia Kembalikan 12 Pesawat Bombardier CRJ-1000
BUMNINC.COM | PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) akan kembalikan 12 pesawat jenis Bombardier CRJ-1000 secara sepihak karena negosiasi dengan pihak lessor tidak berjalan baik.
Hal itu dilakukan seiring dengan hasil review dari GIAA. Beberapa yang dipaparkan pada publik salah satunya leasing maskapai Garuda terhitung sebagai yang paling tinggi di dunia.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra Menurutnya, pengembalian pesawat Bombardier itu merupakan akibat meruginya pihak maskapai Garuda setiap kali melakukan negosiasi.
Di samping, tarif parkir dan perawatan Bombardier yang dapat dikatakan tinggi, mencapai USD 50 juta. Kerugian yang didapat GIAA lebih dari USD 30 juta per-tahun. “Berulang kali setiap kami lakukan negosisasi mendapatkan feedback yang tidak positif,” katanya dalam koferensi pers, Rabu (10/2/2021).
Bahkan, katanya hampir setiap negosiasi dengan lessor pesawat Bombardier tersebut, tidak pernah turun justru mengalami kenaikan. Hal ini dianggap sangat tidak adil terutama saat bisnis maskapai terhimpit kondisi pandemi.
Hingga kini, pihak lessor belum memberikan tanggapan apapun terkait tuntutan GIAA. Sedangkan GIAA juga masih menunggu hasil penyelidikan dari The Serious Fraud Office atau lembaga yang mengusut perkara korupsi Inggris, terkait dugaan suap oleh pihak lessor Bombardier.
Ia pun mengungkapkan bahwa jika nantinya ada konsekuensi, tentunya GIAA sudah siap dengan segala konsekuensi yang ada.
Selain itu, berdasarkan rangkuman BUMNINC, GIAA juga tengah meyesuaikan jumlah pesawat, karena ada beberapa pesawat tidak sesuai karakteristik penumpang Indonesia dengan rencana yang sama, mengembalikan pesawat yang tidak efektif tersebut.
Pesawat yang dinilai karakteristiknya tidak cocok itu diantaranya jenis Bombardier dan ATR 72-600 yang kini masih dalam tahap negosiasi.
Pertama, lantaran bagasinya kecil. Padahal, katanya penumpang Indonesia cenderung memiliki karakter membawa barang dalam jumlah banyak.


