Karyawan Pegadaian yang Menolak Holding Ulta Mikro Diklaim Capai 95 Persen
BUMNINC.COM I Serikat Pekerja (SP) PT Pegadaian memastikan mayoritas karyawan perusahaan pelat merah ini menolak upaya penggabungan menjadi holding ultra mikro yang digagas pemerintah. Presentase angka karyawan yang menolak holding mencapai jumlah 95%.
“Mungkin lebih dari 95%. Penolakannya merata di seluruh Indonesia. Kami menghitungnya dari video dan gambar foto yang dikirimkan dari seluruh cabang,” ujar Sekjen SP Pegadaian, Rosyid Hamidi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (23/2/2021).
Menurut Rosyid, Pegadaian merupakan perusahaan yang sehat dan tidak pernah mengalami kerugian. Oleh karena itu, ia menilai tidak selayaknya perseroan di bentuk menjadi holding.
Selain itu, Pegadaian sejak didirikan juga membawa misi khusus, yaitu untuk memerangi praktik ijon, rentenir dan lintah darat, serta memberikan perhatian atau concern pada masyarakat menengah ke bawah.
“Tidak hanya ultra mikro saja, bahkan untuk kepentingan sekadar beli beras untuk makan, kita layani,” tambah Rosyid.
Ia juga menuturkan, karakter kredit gadai sangat berbeda jauh dengan kredit mikro atau perbankan karena sifatnya bridging untuk keperluan mendesak.
“Intinya holding ultra mikro kurang pas mengikutkan Pegadaian, karena presentase nasabah mikro di Pegadaian kecil,” jelasnya.
Rosyid kembali menegaskan agar sebaiknya holding ultra mikro tidak mengikutsertakan Pegadaian, karena ini amanat dari Munas Serikat Pekerja di Solo bulan November 2020 lalu.
“Menurut saya, Pegadaian sementara berdiri sendiri karena saat ini Pegadaian juga jadi rujukan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK dalam mengatur industri pergadaian di Indonesia,” tuturnya.
Karyawan senior PT Pegadaian ini pun meminta manajemen dan pemerintah untuk tidak mengabaikan tuntutan karyawan. Pasalnya, jika terus menerus diabaikan, Rosyid khawatir karyawan akan mengekspresikan penolakan dengan cara-cara yang lebih militan.
“Aksi penolakan ini semestinya didengar dan diperhatikan pemerintah. Jika terus diabaikan, kami khawatir risikonya menjadi semakin besar,” ungkapnya.
