Laba Bersih BNI Naik 17 Persen Jadi Rp10,3 Triliun di Semester I-2023
Dalam kesempatan sama, Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini menyampaikan bahwa kinerja fungsi intermediasi perseroan didukung oleh segmen korporasi swasta Blue Chip pada pertengahan tahun ini, dengan portofolio mencapai Rp239,3 triliun, diikuti juga oleh segmen enterprise dengan portofolio Rp52,1 triliun.
Adapun, segmen konsumer membukukan kinerja yang sangat baik di secured segmen, seperti griya dan payroll loan, dengan tumbuh mencapai 11,7 persen (yoy) menjadi Rp116,4 triliun.
“Kinerja kredit ini, didukung dengan loan yield yang baik sekaligus kompetitif, sehingga kami mampu terus memfasilitasi kebutuhan ekspansi, sekaligus akuisisi debitur baru sebagai basis pertumbuhan ke depan,” ujar Novita.
Lebih lanjut, dari sisi komposisi likuiditas, CASA perseroan pada pertengahan tahun ini mampu terjaga di posisi 69,6 persen terhadap total DPK, yang mana rasio CASA ini, membawa perseroan mencapai Cost of Fund yang terjaga di posisi 1,98 persen.
“Dengan berbagai tantangan dalam penghimpunan likuiditas, BNI mampu mengelola kondisi ini, sehingga tetap dapat menjaga posisi likuiditas yang baik. Upaya perbaikan kualitas kredit, melalui pengawas, penanganan, dan kebijakan perseroan sejauh ini telah berjalan cukup efektif,” ujar Novita.
Pada semester I-2023, Non-Performing Loan (NPL) BNI berada pada level 2,5 persen, atau membaik apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,2 persen.
Sementara itu, total kredit lancar yang direstrukturisasi juga membaik 270 basis poin (bps) menjadi 9,3 persen seiring dengan berjalannya skema restrukturisasi kredit dan pulihnya bisnis debitur.
Novita mengatakan, perbaikan kualitas aset tetap diimbangi dengan penyediaan pencadangan pada level yang kuat untuk mengantisipasi risiko.
Adapun, rasio pembentukan beban CKPN terhadap total kredit atau credit cost pada semester pertama tahun 2023 sebesar 1,4 persen, atau menurun 70 bps dibandingkan credit cost yang dibentuk periode yang sama tahun lalu sebesar 2,2 persen.
