Masa Depan Holding Company BUMN
Meskipun telah mencapai kemajuan yang signifikan, holding BUMN masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah persoalan Integrasi yang Kompleks di mana integrasi antar perusahaan dalam satu holding seringkali kompleks dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal ini ditambah dengan kompleksitas karena perbedaan budaya perusahaan antar anak perusahaan yang bergabung dan memerlukan waktu untuk proses melting budaya tersebut.
Struktur holding BUMN juga kerap menimbulkan masalah birokrasi dimana pengambilan keputusan dan pelaksanaan strategi bisnis menjadi lambat. Beberapa holding BUMN juga mengalami situasi ketergantungan pada pemerintah yang cukup dominan dimana hal ini akan membatasi fleksibilitas dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis.
Beberapa holding BUMN misal di sector perkebunan, farmasi atau ID Food masih memeliki pekerjaan rumah besar untuk meningkatkan daya saingnya. Selain karena factor integrasi yang kompleks, masalah terbesar juga mucul karena beban struktur hutang yang cukup besar. Misal di sector farmasi, maka BioFarma harus menanggung beban kerugian yang cukup besar secara konsolidasi karena kerugian yang diderita ke dua anaknya yaitu Kimia Farma dan Indofarma. Demikian pula fluktuasi harga komoditi di pasar global sangat mempengaruhi kinerja holding perkebunan.
Komparasi Holding BUMN SASAC di China
Sering sekali public mencoba membandingkan kinerja holding (BUMN) dengan competitor di negri jiran seperti Temasek di Singapura atau Khazanah di Malaysia. Komparasi ini dari finansial indikator sebagai output kinerja cukup membantu. Namun secara fundamental sisi kelembagaan terdapat perbedaan besar pengelolaan BUMN di Indonesia dan ke dua negara tetangga tersebut. Baik Temasek maupun Khazanah bentuknya adalah Super Holding Company, suatu entitas bisnis yang terpisah dari birokrasi pemerintah masing-masing. Sementara di Indonesia K- BUMN adalah bentuk birokrasi besar yang mengkoordinasikan perusahaan negara beroperasi.
