Mencermati Kinerja BUMN Konstruksi
Emiten properti yang telah melaporkan kinerja keuangannya di kuartal III-2020 terlihat masih mengalami tekanan baik dari pendapatan, laba bersih maupun perolehan kontrak baru. Berdasarkan laporan keuangan yang telah dirilis di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan kinerja terjadi baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan penurunan laba bersih hingga 95,62 persen pada kuartal III 2020. Laba bersih ADHI tercatat sebesar Rp 15,38 miliar, turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp 351,86 miliar.
Penurunan kinerja cukup tajam pada kuartal III 2020 juga dialami oleh PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Laba bersih perseroan jeblok sebesar 91 persen dari Rp 1,56 triliun pada periode tahun lalu menjadi Rp 141 miliar pada periode tahun ini. Penurunan laba bersih ini terjadi seiring merosotnya pendapatan perseroan hingga 43,25 persen.
Selain ADHI dan WIKA, penurunan kinerja turut terjadi pada PT PP Tbk (PTPP). Pada kuartal III 2020, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 10,02 triliun. Raihan tersebut turun 37,02 persen dibandingkan periode tahun lalu yang mencapai Rp 15,91 triliun.
Melihat situasi pandemik yang masih berlanjut , kita menduga dengan melihat kinerja triwulan3 /2020 , kondisi buruk yg dihadapi BUMN sektor konstruksi masih akan berlanjut. Perlu langkah dan strategi kontijensi untuk mengatasi situasi tersebut.
Upaya perbaikan kinerja bisa dilakukan terutama pada sisi pengeluaran yang masih bisa dikontrol. Terutama dampak dari beban bunga pinjaman dan hutang jatuh tempo. Perlu upaya renegosiasi dengan kreditur untuk meringankan beban hutang ini. Disamping itu sisi efisiensi biaya dengan optimalisasi supply chain ataupun sistem produksi dimana kemampuan percepatan eksekusi proyek bisa diimplementasikan .
