Menteri BUMN Tekankan PKPU Temui Titik Terang Dua Bulan ke Depan
BUMNINC.COM I Menteri BUMN, Erick Thohir, menekankan proses Penundaan Kewajiban Penundaan Utang (PKPU) PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) harus berjalan sukses. Dia menilai, proses tersebut akan menemui titik terang dalam satu hingga dua bulan ke depan.
“PKPU sedang berjalan. Mungkin satu sampai dua bulan ini sama seperti negosiasi dengan para penyewa-penyewa pesawat terbang ke kita. Dari informasi yang saya dapat, mayoritas sudah positif tapi belum tertulis. Jadi selama belum ada tertulis, saya belum berani pegang itu menjadi solusi,” ucap Erick, Kamis (13/1/2022).
Kendati demikian, Erick belum bisa menjamin bahwa maskapai pelat merah itu lolos dari kepailitan. Tapi dia memastikan, Kementerian BUMN akan melakukan restrukturisasi secara besar-besaran terhadap Garuda seperti yang dilakukan di PT Perkebunan Nusantara III (Persero). Terbukti, PTPN kini berhasil mencetak untung Rp 2,3 triliun dari sebelumnya rugi Rp 1,4 triliun.
Kementerian BUMN akan berupaya keras untuk menyehatkan kembali maskapai kebanggaan nasional ini. Bukan hanya Garuda, BUMN-BUMN lain juga akan terus dijaga agar menjadi lebih sehat terutama yang besar-besar seperti kereta api, industri penerbangan, perminyakan, PLN, karena BUMN-BUMN tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Garuda pasti kita jaga. Makanya, proses PKPU ini harus sukses. Philippine Airlines saja sukses dengan mendiskon US$2 miliar utangnya dan mereka sudah mengumumkan Philippine Airlines bisa terbang lagi tetapi dengan jumlah pesawat yang lebih efisien. Kalau Philippine bisa, kenapa Indonesia nggak bisa?” papar Erick.
Menurut Erick, proses PKPU ini terus berjalan dan Kementerian BUMN mendorong agar proses tersebut mendapat persetujuan minimal sebesar 51% yang kini sedang menuju angka tersebut.
“Jadi negosiasi harus terjadi karena kalau terlalu berkepanjangan tidak akan menyelesaikan semua masalah. Dalam program restrukturisasi perusahaan yang berat itu adalah kita harus melihat seluruh restrukturisasi dan tidak bisa sepotong-sepotong,” kata dia.
Menurut dia, negosiasi pesawat terbang ini menyumbang sebesar 40% dari seluruh persoalan restrukturisasi di Garuda di mana sangkutan bersama lessor merupakan yang terberat. Sedangkan 60% sisanya berasal dari masalah rute, strategi pemasaran, efisiensi dari pemeliharaan, makanan katering dan masih banyak hal lainnya.
“Paling tidak kalau PKPU sudah menjadi keputusan, optimisme Garuda untuk bisa beroperasi baik lagi akan menjadi kenyataan. Tapi, kalau PKPU ini tidak selesai, maka kita bisa lihat jumlah pesawat terbang Garuda yang semula totalnya sekitar 220, sekarang tinggal 142 dan hanya 35 yang bisa terbang. Sisanya, grounded dan dipegang leasing,” ungkap Erick.
