Rumput Laut Kalimantan Timur Siap Jajaki Pasar Korea
BUMNINC.COM | Pasar rumput laut Indonesia alami prospek yang baik. Pasalnya, Kalimantan Timur siap melakukan ekspor ke pasar Korea Selatan.
CV Multi Sarana Jaya salah satu gabungan usaha di Kalimantan Timur tengah menyiapkan ekspornya ke Korea Selatan di akhir tahun ini.
“Kalau nggak meleset sekitar tanggal 21 atau 24 [februari] kita kirim ke korea,” ujar Direktur CV Multi Sarana Jaya Samuel Kurniawan Ang dikutip dari Bisnis, Kamis (11/2/2021).
Ia mengatakan pihaknya tengah menunggu keberangkatan 1 kontainer 20 feet ekspor rumput laut.
Menurut Samuel, pihaknya telah melakukan ekspor pertama kali pada April 2020. Sebelumnya, dia hanya melakukan perdagangan domestik hingga tahun 2019 memulai penjajakan terkait perdagangan luar negeri.
Pasokan rumput laut yang didapatkan berasal dari Kota Bontang, Kaltim dan Provinsi Kaltara (Tarakan dan Nunukan) dengan kisaran harga di petani mencapai Rp13.500 per kilogram.
Dalam sebulan dapat, Multi Sarana Jaya bisa menjual rata-rata 12 ton rumput laut ke beberapa daerah seperti Makassar dan Surabaya yang dapat menghasilkan pendapatan bersih sekitar Rp30 juta per bulan.
“Potensinya bagus, permintaan cukup tinggi kadang-kadang kita kekurangan bahannya, masalahnya justru harga tidak stabil, tergantung supply dan demand,” ungkapnya.
Namun, katanya pandemi Covid-19 membuat dampak yang cukup besar bagi Samuel. Pasalnya, baik permintaan domestik maupun ekspor menurun cukup drastis sepanjang 2020.
Sebelumnya, kata Samuel pengiriman rumput laut ke Eropa lancar. Sayangnya, saat pandemi ini, terjadi penurunan pengiriman yang menyebabkan Samuel kehilangan 50 persen pendapatan.
“Sekarang pangsa pasar kurang karena Covid-19, permintaan di luar juga agak berkurang, stok mereka juga selalu cukup,” jelasnya.
Adapun, Samuel mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana membuat raw material rumput laut menjadi produk olahan sebagai komoditas ekspor ke depannya.
“Kita tidak ingin mengekspor dalam barang mentah, kalau ada potensi kita ingin mengembangkan olahan agar mendapatkan value added sehingga kita bisa terus menjamin petani kita yang di bawah karena kalau [harga] terlalu rendah khawatir mereka tidak bisa mencukupi kehidupan mereka,” terangnya.
Samuel bercerita, memulai usaha ini sejak pertengahan 2015 tersebut awal mulanya melihat dari potensi melimpah untuk sumber daya alam Kaltim, di samping potensi kayu, batu bara, dan sawit.
