Wapres Dorong Strategi Kampanye Positif Industri Kelapa Sawit
Wapres menyampaikan seluruh pihak terkait harus dapat mengomunikasikan informasi dan kebijakan secara efektif, serta membuktikan bahwa upaya pengembangan industri kelapa sawit nasional tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan.
Adapun Wapres pada pertemuan forum lingkungan hidup internasional COP 27 November 2022 telah menyampaikan pernyataan Indonesia salah satunya, Indonesia terus berupaya untuk leading by example atau memimpin dan memberi contoh terkait kelapa sawit.
“Kebijakan yang kita (pemerintah) ambil antara lain memperbarui ‘Nationally Determined Contribution’ atau ‘Enhanced Nationally Determined Contribution’ (Enhanced NDC) yang memuat peningkatan target penurunan emisi Indonesia,” jelas Wapres.
Dia menjelaskan target penurunan emisi karbon dengan kemampuan sendiri meningkat dari 29 persen menjadi 31,89 persen, dan target penurunan emisi karbon dengan dukungan internasional meningkat dari 41 persen menjadi 43,20 persen. Hal tersebut sesuai visi Indonesia untuk mencapai net-zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Dia menekankan komitmen Pemerintah Indonesia untuk penurunan emisi karbon jelas membutuhkan dukungan semua pihak.
Industri kelapa sawit dari hulu sampai hilir, menurutnya, mempunyai peranan penting untuk mencapai target pada tahun 2030. Transformasi industri kelapa sawit untuk menerapkan praktik berkelanjutan pun mutlak diperlukan.
Wapres menekankan instrumen kebijakan untuk mendorong praktik keberlanjutan di industri kelapa sawit telah tersedia, salah satunya Peraturan Presiden 44/2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia atau ISPO.
Wapres mengatakan ISPO akan menaikkan daya saing sekaligus memperkuat upaya untuk mengakselerasi penurunan emisi karbon dari industri kelapa sawit Indonesia.
Berdasarkan perhitungan, katanya, tutupan kebun sawit nasional seluas 16,38 juta hektar berkontribusi pada penyerapan 2,2 miliar ton CO2 setiap tahun.
Selain itu, program biodiesel atau B30 untuk mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil telah mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 29,5 juta ton setara CO2 di tahun 2022.
“Artinya, kontribusi kebun sawit nasional ternyata cukup besar dalam pengendalian perubahan iklim. Jika fakta-fakta tersebut terkomunikasikan dengan baik, maka diharapkan masyarakat internasional khususnya akan lebih memahami sehingga dapat menekan kampanye negatif terhadap industri kelapa sawit,” jelas Wapres.
Dia meminta pengurus baru Gapki untuk lebih memperkokoh peran dalam mewujudkan perkebunan kelapa sawit Indonesia yang berkelanjutan pada tahun 2024, serta membantu penyelesaian pekerjaan rumah seperti peningkatan produktivitas, kampanye negatif, gangguan usaha dan konflik, hilirisasi, maupun hambatan akses pasar di negara tujuan ekspor.
