Kementerian BUMN Optimistis BSI Bisa Bersaing Secara Global
Hasil merger 3 bank anak BUMN tersebut akan memiliki aset hingga mencapai Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun. Angka dari jumlah aset dan modal inti tersebut akan menempatkan BSI ke dalam jajaran 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan ditargetkan menjadi 10 besar bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapilatisasi pasar dalam waktu 5 tahun ke depan (tahun 2025).
Hal ini sesuai dengan target Menteri BUMN yang menginginkan BSI masuk dalam Top 10 Besar Dunia yang dapat disejajarkan dengan bank Syariah terbesar di dunia, seperti Al-Rajgi hingga Albilad Bank.
“Kita ingin hasil merger ini bisa membuktikan negara dengan jumlah populasi muslim terbesar ini memiliki kondisi bank yang kuat secara fundamental dan Alhamdulillah ini berjalan dengan baik. Saya berharap Bank Sayariah Indonesia dapat energi baru bagi ekonomi Indonesia yang senantiasa menerapkan prinsip financial justice dan stability in investment yang telah terbukti berhasil membawa tiga bank Syariah yang bergabung menjadi Bank Syariah Indonesia ini mengarungi krisis pandemi Covid-19, bahkan mampu menorehkan kinerja yang sangat positif dan membanggakan,” ujar Erick.
Di dalam negeri, BSI masuk dalam peta persaingan utama perbankan di Indonesia. Saat ini, BSI memiliki 1.200 kantor cabang yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.
Deputi Bidang Keuangan dan Manajemen Risiko Kementerian BUMN, Nawal Nely mengatakan, sebanyak 20 ribu karyawan yang sudah bekerja akan terus ditingkatkan kapasitas dan kemampuannya dalam menjalankan perbankan Syariah sehingga dapat meningkatkan efisiensi bisnis bagi perusahaan.
