Longsornya IHSG dan Ujian Ketahanan BUMN
## Dampak bagi BUMN: Paling Terekspos, Paling Disorot
Emiten badan usaha milik negara (BUMN) menanggung tekanan besar karena memiliki kapitalisasi pasar yang besar, bobot dominan dalam indeks, dan porsi kepemilikan asing yang signifikan. Pada perdagangan intrahari 16 Oktober pukul 14.00 WIB, saham BBRI turun 12,58 persen, BBNI 11,44 persen, dan BMRI 8,54 persen. Sektor infrastruktur, yang dimotori TLKM, terkoreksi sekitar 13 persen. Indeks LQ45 sempat merosot 12,9 persen pada sesi pagi. Sebagai catatan, BBCA yang turut anjlok merupakan saham bank swasta, bukan BUMN.
Dampaknya terhadap BUMN berlangsung melalui empat saluran.
**Valuasi dan basis investor.** Penjualan oleh dana pasif terjadi karena ketentuan mandat investasi, bukan semata-mata karena kinerja perusahaan. Saham BUMN dengan fundamental baik tetap terseret. Diskon valuasi berpotensi bertahan hingga keputusan MSCI pada Juni 2027.
**Biaya pendanaan melalui penerbitan saham.** Rencana penerbitan saham baru melalui rights issue, divestasi, atau penawaran umum perdana saham (*initial public offering*/IPO) anak usaha berpotensi menjadi lebih mahal dan lebih dilutif. Sebagian aksi korporasi bahkan berisiko ditunda.
**Pendanaan dan pembiayaan kembali utang.** BUMN di sektor infrastruktur, konstruksi, dan energi yang memiliki utang dalam valuta asing, pendapatan dalam rupiah, serta proyek berjangka panjang paling rentan. Kreditur dapat meninjau ulang selisih suku bunga pinjaman (spread), tenor, dan persyaratan perjanjian utang (covenant).
**Kapasitas pembayaran dividen kepada Danantara.** Tekanan biaya modal dan nilai tukar pada akhirnya dapat menggerus laba yang menjadi sumber dividen. Konsekuensinya, kapasitas investasi Danantara juga dapat terdampak.
Komitmen Danantara untuk berinvestasi sekitar US$5 miliar pada bisnis di Indonesia dalam enam hingga sembilan bulan patut diapresiasi. Namun, komitmen itu disampaikan sebelum pengumuman MSCI dan tidak dirancang sebagai dana penyangga bursa. Dukungan melalui pembelian saham tidak dapat menggantikan data kepemilikan yang kredibel dan pembentukan harga yang wajar.
