Memahami Kinerja Pudar BUMN Tahun 2020
BUMNINC.COM I Dalam dengar pendapat Bersama DPR pada awal Juni 2021 lalu, Menteri Erick Thohir menyampaikan kinerja BUMN tahun 2020. Intinya karena dampak situasi Covid-19 yang memukul industri secara keseluruhan, maka kinerja BUMN di 2020 juga terpengaruh cukup tajam. Nilai penjualan seluruh BUMN sepanjang 2020 diperkirakan mencapai angka sekitar Rp 1.200 Triliun atau turun dari posisi penjualan tahun 2019 yang mencapai angka Rp 1.600 T. Demikian pula laba yang dicetak seluruh BUMN pada 2020 hanya mencapai angka sekitar Rp 28 triliun. Pencapaian laba ini jauh dari pencapaian laba yang mencapai Rp 124 triliun. Laba BUMN tahun 2020 melorot 77 persen dibandingkan pencapaian tahun 2019.
Lingkungan bisnis yang belum lepas dari dampak Covid-19 memang bergerak relatif lambat. Data yang disampaikan pada raker DPR tersebut menunjukkan hampir sembilan puluh persen BUMN mengalami kesulitan. Hanya perusahaan negara di sector jasa kesehatan, jasa teknologi dan sector foods yang memiliki kinerja masih lumayan, sementara sisanya dalam upaya bertahan (survive) .
Data setoran dividen BUMN di 2020 juga menunjukkan kontribusi 5 BUMN telah menyumbangkan hampir 90 persen total laba keseluruhan dividen BUMN. Kondisi pareto BUMN tergambarkan dengan jelas. Lima besar penyumbang laba terbesar BUMN tersebut adalah : BRI (26,4%), Bank Mandiri (22,2%), Pertamina (19,1%), Telkom (17,8%), serta BNI (5,2%).
Kinerja buruk BUMN 2020 akibat pandemi ini tentu bisa menjadi alasan yang logis. Catatan apa lagi yang perlu diperhatikan? Laporan BKF Kemenkeu (2021) menunjukan sumbangan perpajakan BUMN pada tahun 2020 tercatat Rp 245 triliun. Angka tersebut juga turun dari setoran pada tahun 2019 yang sebesar Rp 285 triliun. Kontribusi ini berupa setoran pajak terkait dengaBn Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Penambahan Nilai (PPN), bea cukai, pajak lainnya, serta retribusi pemerintah daerah (pemda). Kemudian, sumbangan BUMN dalam bentuk PNBP lainnya tercatat Rp 86 triliun. Terdiri dari pembayaran royalti, iuran minyak dan gas (migas), serta iuran jasa kepelabuhan, dan lain-lain
Diluar pandemi Covid-19 tentu ada faktor lain yang harus diperhatikan terkait kinerja BUMN. Apa saja factor tersebut ? Menurut pandangan BUMNINC faktor pertama terkait dengan penugasan pemerintah kepada BUMN, misal pembagunan infrastruktur harus diperjelas tugas dan tanggungjawabnya sehingga tidak memberatkan keuangan BUMN. Selama ini karena penugasan tersebut tidak disertai dengan jaminan pembiayaa maka menyebabkan tekanan keuangan yang sangat berat, misalnya yang terjadi pada semua BUMN Karya. Jadi upaya Menteri Erick Thohir supaya penugasan PSO ke depan harus dibicarakan terlebih dahulu diantara KBUMN, Kementrian Keuangan dan Kementrian Teknis-nya patut diapresiasi.
