Nasabah Jiwasraya Tolak Skema Restrukrisasi, Dinilai Tak Adil
BUMNINC.COM I Nasabah asuransi Jiwasraya Saving Plan menolak skema restrukturisasi yang ditawarkan. Mereka menilai opsi yang diberikan tidak adil. Salah satu nasabah, Roganda Manulang mengatakan para nasabah saat ini bagaikan disodorkan pilihan yang tidak pernah didiskusikan. Opsi yang beredar menurutnya tidak pernah dibicarakan dengan para nasabah.
“Kami hanya diberi pilihan mau ikut apa nggak, itu kan bentuk intimidasi mereka. Ini tahu-tahu dapat kabar bentuk opsi begini, tapi nggak dibicarakan dengan kami, ini kan kami dirugikan,” ujar Roganda Roganda dalam konferensi pers virtual, Senin (14/12/2020).
Ia pun menilai opsi restrukturisasi yang didapatkan pihaknya sangat memberatkan nasabah.
“Kami menolak opsi restrukturisasi yang ditawarkan, karena tidak utamakan asas keadilan dan win win solution. Semua opsi memberatkan nasabah, kami harapkan solusi yang win-win,” kata dia.
Dia menjelaskan para nasabah mendapatkan kabar soal 3 opsi yang ditawarkan Jiwasraya untuk melakukan restrukturisasi. Opsi yang pertama adalah dana para nasabah akan dibayarkan selama 15 tahun tanpa bunga.
Kemudian, opsi berikutnya adalah dibayar selama 5 tahun dengan haircut alias pemotongan dana sebesar 29%.
Opsi yang terakhir adalah dibayar selama lima tahun dengan pembayaran di muka sebesar 10% oleh IFG Life. Namun, dana yang dibayarkan mengalami haircut sebesar 31%.
Lee Kang Hyun, nasabah lainnya asal Korea Selatan mengatakan opsi yang diterima pihaknya sungguh menyiksa para nasabah. Dia juga mengaku tertipu dengan opsi restrukturisasi yang beredar.
“Kami memang menunggu keputusan pemerintah, belum ada apapun komunikasi ke kami, ternyata tahu-tahu yang keluarnya dibayar 15 tahun, dibaliki tapi tanpa bunga. Benar-benar disiksa dan tertipu,” kata Lee.
Sementara, Roganda menegaskan jika nasabah saving plan mendapatkan bunga sebesar 6 persen-7 persen. Kondisi tersebut tidak sejalan dengan penjelasan pemerintah yang menyatakan jika produk tersebut menawarkan bunga tinggi 9 persen-13 persen.
“Salah satu contoh yang kami berikan, waktu konferensi pers Jumat kemarin, Pak Hexana (Dirut Jiwasraya) bilang bahwa penyebab masalah ini adalah bunga tinggi. Jadi, kami dituduh menerima bunga yang tinggi padahal tadi sudah dikonfirmasi 6 persen -7 persen, itu sangat wajar sekali,” katanya.

