Persembahan Terakhir Batik Peranakan Legendaris Oey Soe Tjoen

Widianti Widjaja penerus usaha batik OST sejak kisaran tahun 2000-an. Ia merupakan generasi ketiga yang cukup mendapat banyak tantangan sejak awal meneruskan usaha keluarganya. (Foto: Istimewa)
Batik tulis OST pun digemari saudagar dari Kudus, Magelang, dan beberapa daerah lain yang kebanyakan pengusaha rokok dan tembakau. Bahkan batik Oey sempat menjadi mahar wajib para pengusaha Tionghoa.
Di puncak usaha Oey, ia mempekerjakan 150 orang yang dilatih untuk membatik dengan baik. Kuncinya bagi Oey, proses produksi mesti dilakukan secara tradisional untuk mempertahankan kualitas.
Pada 1980 usaha Oey beralih ke generasi kedua yakni Koey Kam Long. Di masa ini produksi batik Oey mulai menurun manakala sejak empat tahun sebelumnya, hadir produk tiruan yang dikerjakan dengan sablon atau printing.
Pada kisaran tahun 2000-an, usaha batik OST dilanjutkan oleh generasi ketiga yaitu Widianti Widjaja. Ia merasakan banyak tantangan yang dihadapi sejak awal ia melanjutkan usaha. Pada 2002 ketika terjadi peristiwa Bom Bali, usaha batik Oey ikut kena imbasnya. Banyak turis asing yang membatalkan pesanan ditambah beredar isu bahwa batik Oey berhenti berproduksi.
