Persembahan Terakhir Batik Peranakan Legendaris Oey Soe Tjoen
Jika pada generasi kedua, motif cuwiri dihilangkan karena banyak diproduksi oleh batik printing, di generasi ketiga, Widianti kembali memproduksi motif cuwiri pada 2009 setelah menerima pesanan dari Herman.
Batik OST merupakan salah satu dari dua batik Pekalongan Peranakan yang masih bertahan sampai hari ini.
Harga batik OST jika dijual lagi oleh kolektor bisa berharga puluhan hingga ratusan juta. Menurut kolektor dan pecinta batik peranakan, Yohannes Somawiharja, karena dikerjakan dengan cermat dan sempurna, wajar jika batik OST berharga tinggi. Bahkan menurutnya, batik OST disebut-sebut sebagai the finest workmanship.
Hanya saja dalam video dokumenter yang tayang di kanal Youtube BBC News Indonesia, Widianti mengutarakan kegelisahannya, batik OST terancam punah. “Bisa habis atau bisa punah dalam waktu 10 tahun ke depan,” ujarnya.
Penyebabnya, proses pengerjaan batik OST membutuhkan waktu lama. Menurut Widianti, jika batik dikerjakan dari pertama sampai terakhir seperti pabrik tanpa berhenti butuh 1-1,5 tahun. “Belum lagi faktor cuaca, atau pembatiknya atau saya sakit butuh waktu tiga tahun untuk satu kain,” jelasnya.
