Profesionalisme Pengelolaan Superholding BUMN
Apa Kunci keberhasilan Temasek ? Karakter Temasek yang menonjol adalah adanya visi jangka panjang yang jelas, struktur organisasi yang fleksibel, budaya perusahaan yang inovatif, pengambilan keputusan yang cepat, serta serta system tata Kelola perusahaan yang baik (GCG). Keterlibatan pemerintah sangat minimal dalam operasi Temasek, kecuali dalam pengambilan keputusan strategis terkait penunjukan top management. Struktur organisasi Temasek dilengkapi dengan organ komite audit, komite risiko serta komite nominasi. Dengan kelengkapan organisasi seperti ini maka secara kelembagaan Temasek dapat beroperasi secara optimal.
Human capital di Temasek dikelola dengan cara professional dimana mereka mengkombinasikan SDM local dengan para expatriate mancanegara. Bahkan beberapa prominent figure seperti mantan presiden World Bank, Robert Zoelich, mantan CEO Royal Dutch Shell, mantan CEO Volvo di tunjuk oleh Temasek sebagai board of advisory. Hal ini selaras dengan tujuan Temasek menjadi perusahaan pengelola investasi skala global.
Bagaimana dengan pengelolaan superholding Khazanah ? Terdapat dua kelompok besar BUMN dalam Khazanah yakni kelompok pure commercial dan kelompok BUMN strategis yang melayani juga PSO seperti Tenaga Berhad (PLN -nya Malaysia). Untuk ini maka target return dibedakan, di mana kelompok pertama yang profit oriented diberikan target return lebih besar dibandingkan kelompok kedua. Penggunaan expatriate sebagai tenaga ahli yang bersifat pro hired juga diimplementasikan di Khazanah
Sementara itu, secara tatakelola maka Chairman Khazanah secara ex officio adalah Perdana Menteri Malaysia. Hal ini dalam rangka mengurangi intervensi yang dianggap tidak perlu dalam pengelolaan perusahaan negara. Memang ada risiko dari model ini Ketika perilaku Chairman dianggap menjadi tidak amanah, seperti kasus 1 MDB.
Dengan mengacu pada ke dua institusi superholding ini maka tentu ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik oleh rencana pembentukan Badan Pengelola BUMN. Dari segi aspek pengelolaaan maka otonomi harus cukup besar supaya Badan ini bisa bergerak lincah dan memiliki pengambilan keputusan yang cepat.
Pengelolaan Badan ini juga mungkin perlu mengadopsi bagaimana target return bisa dibedakan antara kelompok BUMN yang profit oriented dan kelompok BUMN yang punya beban PSO besar. Dengan model ini maka setiap BUMN bisa focus ke arah pencapaiaan target.
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah pengelola SDM yang professional, termasuk upaya untuk merekrut pro-hired yang punya track record bagus. Pengelolaan Talenta BUMN jangan terlalu banyak diintervensi kepentingan politik sehingga kualitas tatkelola menjadi buruk.
Beberapa poin tadi bisa menjadi catatan bagi Badan Pengelola BUMN apabila rencana pembentukan Lembaga ini terwujud. Mungkin kita perlu adaptasi kelembagaan secara prudent, perlu masa transisi, sehingga Badan ini di kemudian hari betul-betul akan menjelma menjadi institusi powerhouse BUMN yang disegani.
Toto Pranoto – Dewan Pakar BUMNINC
