Quo Vadiz BUMN: Harapan Baru di Era BP BUMN dan BPI Danantara
Target Nyata: Fondasi Tata Kelola dan Quick Wins
Untuk dua tahun pertama, BP BUMN perlu fokus pada fondasi tata kelola: menyusun blueprint nasional GCG, mengklasifikasikan BUMN berdasarkan fungsi (komersial, PSO, strategis), serta mengimplementasikan fit and proper test yang transparan. Sementara Danantara harus segera membuktikan kemampuan manajerialnya melalui restrukturisasi 3–5 BUMN bermasalah, publikasi indeks kesehatan BUMN pertama dalam 6 sampai 12 bulan secara terbuka, mengurangi waktu proses pengangkatan direksi/komisaris dari rata-rata 6 bulan menjadi 2 bulan.
Contoh quick wins yang nyata yaitu melakukan restrukturisasi cepat BUMN bermasalah. Misalnya penyatuan BUMN konstruksi yang terlilit utang besar menjadi merger atau divestasi aset non-inti. Lalu, melakukan Rights Issue BUMN Tertentu. Caranya dengan melepas sebagian saham anak usaha BUMN energi atau telekomunikasi di bursa untuk menambah transparansi dan menarik investor.
Kemudian, melakukan efisiensi biaya dan sinergi lintas BUMN. Perlu dilakukan penghematan biaya besar. Misalnya procurement bersama, digitalisasi keuangan lintas BUMN dengan angka yang terukur. Lalu menyetorkan dividen tambahan di tahun pertama sebagai bukti pengelolaan aset lebih efisien.
Laporan kinerja semesteran, dashboard daring, serta mekanisme early warning system bagi BUMN bermasalah harus menjadi prioritas. Tanpa transparansi semacam ini, BP BUMN dan Danantara hanya akan menjadi simbol baru dari birokrasi lama yang dibungkus jargon reformasi.
Namun, di balik problem teknokratis itu, Indonesia menghadapi isu konseptual yang lebih mendasar: dualisme hukum BUMN. Revisi UU No. 19 Tahun 2003 menegaskan BUMN sebagai badan hukum privat yang tunduk pada hukum perdata, tetapi pejabatnya tetap dianggap penyelenggara negara. Akibatnya, ketika direksi mengambil keputusan bisnis yang berisiko, mereka bisa terjerat pasal merugikan negara. Ketegangan antara efisiensi korporasi dan akuntabilitas publik ini membuat manajemen BUMN cenderung defensif—takut salah langkah.

