Geliat INKA Dalam Menembus Pasar Global
BUMNINC | PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA menyiapkan ancang-ancang dalam merambah potensi pasar global, terutama pasar perkeretapian di benua Afrika. Berbekal pengalaman di Filipina, Singapura dan Bangladesh, serta kolaborasi nasional dan internasional yang dilakukan selama ini mendorong INKA untuk mengambil langkah maju dalam memasuki pasar gobal perkeretaapian.
Dirut INKA Budi Noviantoro meyatakan bahwa ” INKA mencoba untuk meningkatkan kapasitas, kemampuan dan kualitas produk melalui melakukan kerjasama Joint Venture dengan partner Luar Negeri, dimana kedepan bisnis INKA dapat sustain dalam memasuki pasar bisnis global “, hal ini ia sampaikan dalam acara Webinar BUMNINC, sabtu (10/10/2020).
Besarnya kebutuhan akan transportasi kereta api di afrika mendorong INKA untuk melakukan rencana ekspansi hingga ke beberapa negara, antara lain; Congo, Liberia, Zimbabwe, Zambia dan Angola.
Selain itu, Budi Noviantoro menjelaskan pihaknya telah berkunjung ke Senegal dan berdiskusi dengan salah satu perusahaan di Afrika untuk membangun jalur kereta api dari Bamako (Ibu Kota Mali) sampai ke Dakar (Ibu kota Senegal) itu.
“Kami sudah diskusi dengan mereka untuk membangun 1.203 kilometer upgrading jalur KA dari ibu kota Mali sampai ke Dakar, karena Mali tidak bisa keluar tanpa melalui pelabuhan Dakar,” Jelasnya.
Ia mengatakan bahwa pengerjaan jalur kereta api ini akan mendukung kegiatan logistik di kedua negara tersebut. Pasalnya, jalur kereta di sana di sana sudah tidak beroperasi kembali. Proyek di Afrika ini menjadi strategi bagi BUMN produsen kereta api tersebut dalam memasuki pasar global. Selain proyek KA Mali-Senegal, INKA juga tengah menyelesaikan kontrak untuk memasok lokomotif ke Zambia.
Dalam proyek tersebut, INKA mendapatkan pinjaman dari Pemerintah Swedia guna mengikuti proses lelang untuk memasok 30 lokomotif. Ia berharap kontrak ini dapat diselesaikan pada akhir 2020
“Melalui loan dari pemerintah Swedia, kami sedang proses mudah-mudahan akhir tahun kami bisa kontrak. Ada 30 lokomotif sekitar US$90 juta long-sale,” Pungkas Budi. []
