Tantangan Pahala Mansury Wamen Baru BUMN
Kondisi kelemahan struktural ini tentu harus dibenahi lewat serangkaian program transformasi yang sudah dicanangkan KBUMN. Ďiantaranya program restrukturisasi dengan pembentukan beberàpa holding company BUMN, program klasterisasi BUMN, maupun perbaikan sistem talenta BUMN.
Bagaimana tantangan spesifik yang dihadapi Wamen baru ini? Pada klaster industri migas tentu meningkatkan kinerja hulu dan hilir. Di hulu tentu upaya-upaya untuk bisa menggenjot target lifting 1 juta barel per day, dimana kapasitas Pertamina bisa digenjot dengan optimalisasi beberapa blok terminasi yang mereka sudah take over. Sementara di hilir upaya percepatan pembangunan oil refinerary yang sudah ditargetkan, namun lambat sekali realisasinya, harus bisa diwujudkan. Tawaran kerjasama dengan mitra global seperti Saudi Aramco perlu dipertimbangkan kembali.
Di sektor minerba tantangannya adalah percepatan proses hilirisasi (downstream) untuk beberapa komoditi. Kewajiban pembangunan smelter harus diperluas, sehingga nilai tambah produk bisa dinikmati lebih besar di domestik. Beberapa komoditi unggulan di hilir seperti nikel yang bisa diproses lebih lanjut sebagai input bagi industri baterai listrik bisa menjadi fokus. Demikian pula upaya membawa holding Inalum sebagai pemain gobal di mining industry harus bisa didorong lebih jauh.
Di klaster pertanian/kehutanan tentu diperlukan upaya extra untuk bisa memperbaiki secara radikal kinerja holding sektor perkebunan. Perbaikan sisi off farm dan on farm management harus bisa didorong lebih cepat untuk mendapatkan daya saing yang lebih kuat. Lemahnya daya saing gula PTPN disebabkan salah satunya karena tuanya fasilitas pabrik dan teknologi yang digunakan. Kesulitan akses pendanaan untuk sektor ini harus bisa dipecahkan dengan berbagai skema investasi yang dimungkinkan.
