Duta Besar RI untuk Peru: Asing Bisa 100 Persen Investasi Pada Sejumlah Sektor Ekonomi Penting di Peru
Terkait BUMN di Peru, Marina menyampaikan, BUMN Peru yang bergerak di bidang pertambangan, sahamnya sebagian besar dikuasai asing.
“Mereka tidak seperti Indonesia, Peru bisa 30-70 pertambangannya dipegang investor asing. Kalau kita kan Freeport contohnya sekarang di atas 50 yaa, apalagi ada syarat investor asing wajib buat smelter karena pemerintah berupaya melindungi SDA kita,” ujarnya.
Menurut Marina, hal itu bisa terjadi karena Peru tidak memiliki teknologi dan SDM yang mampu mengelola SDA yang melimpah itu. Biasanya investor asing itu berasal dari China, US, dan Jepang.
“Jadi yang saya lihat, Peru teknologinya masih kurang, Indonesia atau Peru sebagai negara berkembang masih membutuhkan investasi asing di teknologi. Kebanyakan investasi asing di pertambangan termasuk emas, baja, perak, dan minyak,” ujarnya.
Marina menambahkan, Peru saat ini sedang fokus untuk meningkatkan sektor manufaktur. Oleh karena itu, Peru lebih banyak melakukan impor bahan-bahan baku industri dan mesin. Peru juga sedang melakukan perjanjian ekonomi bilateral kepada 21 negara guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka.
Selain Marina, Webinar ini juga mengundang Direktur Eksekutif FONAFE, Lorena Masias Quiroga. Adapun FONAFE dibuat oleh Kementerian Ekonomi dan Keuangan Peru yang ditugaskan mengatur 35 perusahaan BUMN yang terdiri atas dari sektor-sektor seperti pertambangan, pertanian, pembangkit dan distribusi listrik, infrastruktur dan transportasi, hidrokarbon, air dan sanitasi, keuangan, dan lain-lain.
