Kekhawatiran Vale Indonesia (INCO) Ditengah Euforia Nikel Dunia
BUMNINC.Com | Emiten pertambangan mineral, PT Vale Indonesia Tbk., menilai kabar potensi perusahaan mobil listrik global Tesla untuk membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia harus disikapi secara hati-hati.
Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan bahwa kabar Tesla akan membangun pabrik dan menjalin kerja sama dengan penambang nikel dalam negeri membuat industri nikel Indonesia semakin menarik untuk diperhatikan.
Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Rabu (18/11/2020), harga nikel di bursa London parkir di level US$15.809 per ton, turun 0,82 persen. Namun, sepanjang enam bulan perdagangan terakhir harga nikel telah menguat 33,09 persen, sedangkan secara year to date harga naik 12 persen.
Kondisi ini memberikan sentimen positif bagi para emiten pertambangan nikel di Indonesia. Tak terkecuali PT Vale Indonesia Tbk. (INCO)
Kabar itu pun harus ditanggapi secara positif tetapi juga dengan penuh kehati-hatian. Menurut Irmanto, di satu sisi, kabar itu menjadi kesempatan besar bagi Indonesia untuk mengambil posisi strategis dalam percaturan produksi baterai mobil listrik, atau bahkan produksi mobil listrik sendiri.
Indonesia juga memiliki kesempatan untuk mengoptimalkan pendayagunaan dan pemanfaatan bijih nikel yang cadangannya begitu besar.
Apalagi, pemerintah telah mengeluarkan aturan terkait harga patokan mineral (HPM) nikel untuk saprolite dan dalam waktu dekat diharapkan keluar HPM untuk limonite yang bisa diolah di smelter berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).
Adapun, smelter berteknologi HPAL itu untuk memproduksi intermediate produk Mix Hydroxide Precipitate (MHP) dan Mix Sulphide Precipitate (MSP), yang akan menjadi cikal bakal nickel sulphate atau cobalt sulphate atau bahan baku komponen baterai.
“Namun, kalau project HPAL yang sedang dilaksanakan saat ini bisa diselesaikan dan dioperasikan dengan baik, saya rasa akan lebih banyak lagi investasi HPAL di Indonesia,” papar Irmanto.
