National Sugar Summit 2021, Erick Thohir Harap Dapat Bawa Transformasi Industri Gula
Erick menekankan, dalam mewujudkan keseimbangan di sektor pangan, BUMN tidak boleh menjadi menara gading dan harus berani terbuka membangun kolaborasi. “Jangan semua mau diambil. Kita harus kolaborasi, dengan swasta, dengan petani, dengan semua pihak. Untuk keseimbangan,” katanya.
Ia juga menyampaikan, bahwa saat ini kepentingan yang terus diupayakan bersama adalah mendorong pertumbuhan ekonomi sampai tahun 2045. Hal tersebut sejalan dengan pesan Presiden bahwa kita harus menjadi sentra pertumbuhan ekonomi dunia. Mengingat, Indonesia tidak hanya didukung market yang kuat, tetapi juga memiliki sumber daya alam yang melimpah, baik hasil pertambangan, pertanian, perkebunan, matahari, air, serta ketersediaan areal yang luar biasa.
Dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi, lanjut Erick, ketahanan pangan menjadi salah satu konteks yang sangat penting di luar ketahanan energi dan kesehatan. Namun, untuk menjaga ketahanan pangan diperlukan usaha dan kesepakatan bersama.
“Kita sama-sama sepakati roadmap kita, sepakati ekosistem kita. Mana yang impor, mana yang produksi dalam negeri dengan data yang sama, yang tidak perlu impor kita coba maksimalkan (produksinya) di sini. Apa salahnya kita membuat kebijakan yang pro market tetapi juga penting untuk ketahanan pangan kita,” tandasnya.
Erick berharap NSS 2021 dapat menghasilkan keputusan-keputusan konkrit yang dapat membawa perubahan transformatif bagi industri gula.
“Saya pastikan kami yang mengawasi BUMN Pangan akan terus memastikan transformasi terjadi. Transformasi ada hasilnya. Kita terus menggenjot program-program yang coba membantu kehidupan,” paparnya.
Sementara itu, Direktur Utama RNI Arief Prasetyo Adi yang hadir sebagai tuan rumah penyelengra NSS 2021 serta selaku Ketua Dewan Pengarah Asosiasi Gula Indonesia (AGI) mengatakan, selain sebagai agenda rutin, NSS 2021 digelar untuk merespon berbagai kondisi dan dinamika yang dihadapi industri gula nasional saat ini. Dari mulai kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan gula, tingginya impor, hingga penurunan ketersediaan lahan tebu.
