BUMN DAN DANA MELIMPAH UNTUK TRANSISI ENERGI
BUMNINC.COM I Penilaian kinerja perusahaan global saat ini tidak saja terbatas pada sisi finansial saja. Indikator ESG (Environment -Social -Governance) telah menjadi parameter yang dipakai perusahaan global. Dalam kondisi ini maka korporasi bukan hanya dituntut untuk bisa menciptakan keuntungan semata, namun juga memperhatikan bagaimana mereka mengelola aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola bisnis yang baik.
Salah satu aspek penting dalam ESG ini adalah pengelolaan lingkungan. Warga dunia sudah semakin menyadari bahwa keberlangsungan hidup planet ini tergantung bagaimana kita bisa mengelola lingkungan dengan benar. Dampak pencemaran lingkungan dan efek rumah kaca sebagai akibat penggunaan energi yang merusak lingkungan telah berkontribusi pada kualitas lingkungan yang semakin buruk.
Beberapa inisiatif telah dilakukan untuk mengurangi dampak dari kualitas lingkungan yang makin buruk ini. Inisiatif terbaru terkait dekarbonisasi misalnya berupaya untuk memberikan insentif penggunaan lahan hijau yang bisa di offset dengan penghasil karbon yang didominasi pengguna energi fosil.
Indonesia sendiri dalam RUEN telah menetapkan target untuk bisa memanfaatkan energi baru/terbarukan sebesar 23 persen pada 2025. Namun kenyataannya sampai dengan saat ini realisasi target tersebut masih meleset jauh. Alasan mahalnya teknologi EBT dan kepraktisan penggunaan energi fosil sering dianggap sebagai biang keroknya.
Sebuah laporan yang menganalisis ambisi energi terbarukan negara-negara anggota G20 menempatkan Indonesia pada peringkat D yang menunjukkan penyebaran kapasitas energi terbarukannya terbatas dan hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak mempertimbangkan sama sekali target energi terbarukan dalam aktivitas ekonomi mereka.
Alih-alih memanfaatkan potensi alamnya yang kaya akan sumber terbarukan, Indonesia malah tetap konsisten bergantung pada batu bara. Pernyataan para pejabat pemerintah soal dukungan terhadap energi terbarukan belum terlihat jelas dalam bentuk kebijakan soal insentif maupun rencana regulasi
Dalam KTT G20 yang baru berakhir di Bali awal November 2022 telah disepakati skema pendanaan transisi energi yang disebut Just Energy Transition Partnership atau JETP. Disini telah ditetapkan target nilai investasi 20 miliar dollar AS yang setara dengan Rp 300 triliun. Rencana investasi (investment plan) dan detail PLTU mana yang akan dipensiunkan dini melalui skema JETP masih akan dirampungkan dalam 6 bulan.
