Industri Batik, Antara Pandemi dan Regenerasi
Menurut Kementerian Perindustrian, ada sekitar 47.000 IKM batik di Indonesia pada tahun 2019 dengan nilai produk batik sebesar Rp4,746 triliun dan nilai ekspor mencapai Rp50,439 triliun.
Hanya saja, akibat pandemi, Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) mencatat, dari 151.656 pengrajin batik di Indonesia, kini tersisa 37.914 pengrajin yang masih aktif.
Salah satu sebabnya, karena banyak pengrajin batik yang alih profesi saat pandemi COVID-19. Di samping dampak pandemi, persoalan lain yang sudah lama menjadi kerisauan banyak pengusaha batik ialah minimnya regenerasi pembatik.
Maklum saja, membatik membutuhkan sumber daya manusia yang terampil dan berjiwa seni, serta ketelatenan dan kesabaran.
Seperti dialami merek batik tulis peranakan legendaris dari Pekalongan, Oey Soe Tjoen. Usaha batik yang dimulai pada tahun 1925 ini, kini diteruskan oleh generasi ketiga Oey Soe Tjoen bernama Widianti Wijaya.
