KESDM: Teknologi AI bantu tingkatkan keselamatan industri tambang
BUMNINC.COM I Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut penerapan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membantu meningkatkan keselamatan dan produktivitas tambang batu bara.
“Inovasi dan digitalisasi merupakan kunci untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi di industri pertambangan. Perusahaan pertambangan yang dapat memanfaatkan teknologi-teknologi ini dengan baik akan memiliki keunggulan kompetitif,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agus Cahyono Adi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Salah satu inovasi dan digitalisasi yaitu melalui penerapan kecerdasan buatan untuk mendeteksi potensi bahaya dan peringatan dini pekerja tambang.
Inovasi yang diberi nama mining eyes dirancang dengan tujuan menerapkan pengawasan langsung jarak jauh untuk meminimalkan kontak fisik antara pekerja dan bahaya yang ada di area pit.
Corporate Communication Superintendent PT Berau Coal Rudini Rahim saat tim www.esdm.go.id berkunjung ke kantornya di Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), Rabu (6/12), mengatakan mining eyes merupakan pengawasan jarak jauh menggunakan teknologi CCTV serta telah diintegrasikan dengan mining analytic dengan penggunaan kecerdasan buatan.
“Teknologi ini dapat memonitor dan melaporkan pergerakan manusia dan unit alat berat di tambang sehingga menghasilkan operasi yang lebih produktif dan lebih aman karena kurangnya potensi bahaya atas interaksi manusia langsung dengan alat berat yang beroperasi atau berada di area yang memiliki risiko tinggi,” kata Rudini.
Selain mining eyes, inovasi digital yang dilakukan oleh PT Berau Coal, yakni penerapan smart application bernama BEATS yang merupakan kepanjangan dari BeGeMS (Berau Coal Green Mining System) Automation Tracking System.
Aplikasi itu digunakan untuk menunjang pengawasan dan analisis kegiatan operasi serta keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan (K3L) yang sebelumnya dilakukan secara manual kini telah menggunakan teknologi digital.
“Lewat aplikasi ini proses pengawasan operasi yang melibatkan lebih dari 24.000 pekerja dapat dilakukan dengan baik,” ucapnya.


