Pelindo 1 Dorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Pengembangan Kuala Tanjung
KTMT memiliki panjang dermaga 500 x 60 meter, trestle 2,8 km, container yard seluas 14 hektar, dan kedalaman kolam pelabuhan -17 meter LWS. KTMT dilengkapi dengan alat bongkar muat antara lain 3 unit Ship to Shore (STS) Crane dan 8 unit Automated Rubber Tyred Gantry (ARTG) Crane, serta alat angkut 21 terminal tractor. Juga terdapat 22 tangki timbun yang mampu melayani arus curah cair utamanya CPO hingga 1.000 ton per jam dengan 4 jaringan pipa yang dilengkapi dengan 8 pompa.
Selain itu Terminal KTMT juga memiliki konsep terminal ramah lingkungan, dimana sebagian besar peralatan bongkar muatnya menggunakan energi listrik. Seluruh operasional petikemas dan curah cair didukung dengan sistem TI yang terintegrasi Terminal Operating System (TOS). Dengan berbagai fasilitas tersebut, pelabuhan yang dikelola PT Prima Multi Terminal, anak perusahaan Pelindo 1, memiliki kapasitas throughput petikemas hingga 600.000 TEUs dan tangki timbun CPO 100.000 metric ton per tahun.
Sejak beroperasi tahun 2019 hingga saat ini, aktivitas bongkar muat di KTMT terus mengalami peningkatan. Tercatat sejak tahun 2019, bongkar muat petikemas melalui KTMT sebesar 23.937 Teus, curah cair 102.200 ton dan general cargo sebesar 16.970 ton, dan di tahun 2020 trafik bongkar muat semakin meningkat, dengan rincian bongkar muat petikemas sebesar 54.011 Teus (tumbuh 125%), curah cair 366.103 ton (tumbuh 258%) dan general cargo sebesar 63.832 ton (tumbuh 276%).
“KTMT mencatat tren pertumbuhan yang positif artinya, KTMT beroperasi dengan baik dan respon pasar pun positif dengan keberadaan KTMT. Peningkatan level of service ini akan terus dilakukan untuk memaksimalkan kinerja KTMT dan Pelindo 1 ke depannya,” jelas Prasteyo, Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis Pelindo 1.
Sedangkan Kuala Tanjung Industrial Zone (KTIZ) yang dikembangkan di area seluas 3.400 Ha, memiliki potensi segmen industri yang beragam, baik itu port associate industry maupun non port associate industry, diantaranya aluminium, palm oil, iron & steel, rubber, petrochemical, produk makanan, serta segmen industri lainnya.
Kawasan ini juga akan diperkuat dengan tersedianya berbagai layanan pendukung seperti bunkering service, logistic service, dan warehousing, serta dilengkapi juga dengan penyediaan listrik, jaringan pipa gas, air bersih, pengelolaan limbah, dan jaringan utilitas lainnya.
Di dalam rencana Pengembangan Kuala Tanjung PIE ini juga terdapat rencana pengembangan Kawasan Business & residential area yang didukung oleh akses jaringan transportasi terpadu berupa jalan tol Trans-Sumatera dan jaringan jalur kereta api yang langsung masuk ke dalam Kuala Tanjung PIE. Kuala Tanjung PIE juga terintegrasi dan terhubung langsung dengan Kawasan Industri Sei Mangkei, yang merupakan kawasan industri yang terlebih dahulu ada di Sumatera Utara dan telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).



