Bangga! Ada Perempuan Indonesia Dibalik Canggihnya Teknologi Kendaraan Tesla
BUMNINC.COM | Tesla Inc. dikenal sebagai perusahaan pelopor kendaraan berbahan bakar listrik. Lebih luas dari itu, perusahaan tersebut memvisikan sebuah kendaraan yang ramah lingkungan dengan listrik sebagai energi terbarukan.
Belakangan, Tesla mengembangkan produk kendaraan yang terintegrasi dengan algoritma dan kecerdasan buatan. Elon Musk telah mengonfirmasi fitur yang dinamai Full-Self-Driving versi beta tersebut sudah diujikan di beberapa mobil sejak Oktober 2020.
Di balik itu semua, ada kabar yang membanggakan untuk bangsa Indonesia. Pasalnya, salah satu profesi penting disana. Yakni, Autopilot Software Engineer atau insinyur perangkat lunak autopilot dikerjakan oleh salah satunya perempuan asal Indonesia.
Namanya, Moorissa Tjokro, ia bertugas untuk mengevaluasi perangkat lunak autopilot, serta melakukan pengujian terhadap kinerja mobil dan meningkatkan kinerja mobil tersebut.
Fitur Full-Self-Driving ini adalah salah satu proyek terbesar. Sekaligus menjadi fitur terbaru yang merupakan tingkat tertinggi dari sistem autopilot, di mana pengemudi tidak perlu lagi menginjak pedal rem dan gas.
Bagian-bagian yang ia kerjakan antara lain mencakup mencakup computer vision. Bagaimana mobil mendeteksi lingkungan disekitar. Misalnya, mengetahui posisi keberadaan mobil lain di depan, samping dan belakang. Kemudian bagaimana mobil bisa bergerak, bermanuver dengan cara tertentu
Moorisa mengaku fitur terbaru ini dikerjakan sangat ketat dan terliti, sehingga membutuhkan waktu bahkan sampai 70 jam perminggu.
“Kita pengin banget, gimana caranya bisa membuat sistem itu seaman mungkin. Jadi sebelum diluncurkan autopilot software-nya, kita selalu ada pengujian yang sangat ketat yang giat dan menghitung semua risiko-risiko agar komputernya bisa benar-benar aman untuk semuanya,” terangnya kepada VOA dilansir pada Minggu, (3/1/2021).
Bekerja untuk Tesla sejak Desember 2018, awalnya ia menangani bagian Data Scientist sebelum akhirnya menjadi insinyur perangkat lunak autopilot, menjadi 1 dari 6 perempuan yang ada di bagian itu.
Moorisa memang perempuan berprestasi di bidang Sciece, Taechnology, Engineering and Matemathics (STEM). Sejak usia 16 tahun, ia sudah mendapatkan beasiswa Wilson and Shannon Technology untuk kuliah di Seattle Central College.
Selain itu, prestasi lainnya, yakni President’s Undergraduate Research Award dan nominasi Helen Grenga untuk insinyur perempuan terbaik di Georgia Tech. Ia pun menjadi salah satu lulusan termuda di kampus, di umurnya yang baru 19 tahun, dengan predikat Summa Cum Laude.
Berjuang Lebih Keras Kala Pandemi
Awal maret 2020, pertama kalinya ia mengalami kerja dari rumah (WFH) akibat lockdown di Amerika Serikat. Masa-masa penyesuaian menurutnya sangat berat, karena banyak distraksi di rumah, katanya dilansir dari Harian Kompas Minggu (3/1/2021).
Rutinitasnya mulai terhenti, diakuinya memang kesehariannya lebih banyak dihabiskan untuk bekerja pun di masa sebelum pandemi. Gimansium dan kegiatan renang rutinnya sempat terhenti akibat pandemi.
Rencana untuk lebih banyak bersama keluarga pun batal, lantaran ia tidak bisa pulang ke rumah. Bahkan harus membatalkan rencana menjadi pengiring pengantin untuk teman baiknya.
Meskipun begitu, ia menjadikan momen pandemi untuk beradaptasi dengan kedisiplinan. Mempelajari sejauh mana urusan pribadi dengan urusan pekerjaan seharusnya.
Keinginannya, berkontribusi lebih banyak untuk teknologi kecerdasan buatan. Untuk Indonesia, ia bercita-cita membangun yayasan yang bertujuan untuk memberantas kemiskinan. []

