Utang BUMN Membengkak, Adakah Solusinya?
Kemudian ada BUMN konstruksi lain yakni PT Wijaya KaryaTbk (WIKA) yang juga memiliki utang yang menggunung. Meskipun masih untung, bukan berarti WIKA selamat dari permasalahan lain yang sudah disebutkan di atas yakni besarnya hutang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat dan perlu dilunasi.
Tercatat hutang jangka pendek WIKA melesat di tahun 2020 ini dari posisi tahun 2019 sebesar Rp 30,3 triliun menjadi Rp 44,1 triliun di akhir tahun 2020 atau kenaikan sebesar 45,54%.
Tercatat kas dan setara kas perseroan di posisi tahun akhir tahun 2020 berada di angka Rp 14,9 triliun, sehingga melunasi seluruh utang jangka pendek perseroan menggunakan kas dan setara kas perusahaan bukanlah opsi yang bisa dipilih.
Itulah tadi beberapa contoh BUMN yang sekarang nafasnya tersengal-sengal karena tertekan oleh timbunan utang yang menggunung ditambah dengan adanya tekanan dari pandemi Covid-19.
Utang memang bisa meningkatkan produktivitas jika digunakan dengan bijak. Namun jika mengambil utang dengan ugal-ugalan tanpa pertimbangan matang maka hanya akan menjadi bom waktu.
Saat kondisi sulit seperti resesi ekonomi tahun lalu. Utang menjadi solusi utama untuk menyelamatkan perekonomian. Baik korporasi maupun negara cenderung mencari utangan.
Namun sayang di dalam negeri pasar keuangan yang belum berkembang membuat akses pendanaan korporasi masih sangat tergantung pada perbankan.
Di sisi lain pemerintah juga membanjiri pasar dengan menerbitkan instrumen utang yang kuponnya lebih menarik dari tabungan dan deposito sehingga memunculkan fenomena crowding out.
Bayangkan saja dari total nilai outstanding instrumen utang di pasar modal dalam negeri pangsa surat utang korporasi hanya menyumbang di bawah 5% saja. Sisanya dikuasai oleh pemerintah.
Bank sebagai lembaga keuangan yang siklikal akan cenderung main aman dan mengerem laju penyaluran kredit ketika ekonomi sedang kurang sehat. Lantas ketika pemerintah menguasai pasar dan bank mengerem kredit ke mana para korporasi harus meminjam?
