BI: Tingkatkan Konsumsi Swasta Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
Selain meningkatkan ekspor, investasi dan konsumsi, faktor lain yang dapat mendongkrak perekonomian Indonesia adalah hilirisasi sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti mengoptimalkan nikel dalam pembuatan baterai lithium untuk keperluan kendaraan listrik.
“Kami terus mendorong tidak hanya pertumbuhan ekonomi tetapi juga menurunkan neraca berjalan serta meningkatkan investasi asing langsung,” tuturnya.
Ia mengatakan perlambatan ekonomi global masih terjadi pada 2023, sehingga BI menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2023 menjadi 2,3 persen dari prakiraan sebelumnya sebesar 2,6 persen.
Turbulensi ekonomi global pada 2023 meliputi antara lain pertumbuhan ekonomi global yang melambat, di mana ada potensi resesi terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa, inflasi global yang tinggi, suku bunga yang tinggi dan bertahan lebih lama, dolar AS yang kuat, serta ketegangan geopolitik.
“Kita baik dalam manajemen makro domestik kita, tetapi ketika menghadapi suku bunga global, kita juga harus melakukan intervensi, kita perlu memiliki cadangan devisa yang cukup dan juga beberapa inovasi untuk mempertahankan stabilitas domestik kita terhadap perkembangan, ketidakpastian dan volatilitas di global,” tuturnya.
Menghadapi ketidakpastian dan gejolak ekonomi global, Perry mengatakan sinergi dan inovasi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi terus diperkuat, seperti melalui penguatan operasi moneter, stabilisasi nilai tukar rupiah, pengendalian inflasi, dan penempatan devisa hasil ekspor oleh eksportir melalui bank kepada Bank Indonesia.
Sinergi kebijakan antarpemangku kepentingan juga terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sektor keuangan, mendorong kredit/pembiayaan kepada dunia usaha khususnya pada sektor-sektor prioritas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan ekspor, serta meningkatkan ekonomi dan keuangan inklusif dan hijau.
