Bima Arya: Bangun Kota Juga Bangun Manusianya
Oleh karena itu, membangun kota bukan hanya membangun lembaganya, bukan hanya perangkat politiknya, bukan hanya infrastrukturnya. Tetapi membangun kota adalah membangun manusianya yang menghormati sesama manusia.
Namun, menurutnya, para pemimpin, termasuk kepala daerah dihadapkan pada tantangan berat. “Demokrasi liberal, kontestasi politik, dikejar target-target politik sering kali kemudian memunculkan pemimpin yang orientasinya jangka pendek, populisme, menelurkan kebijakan-kebijakan yang populer saat itu tapi belum tentu berdimensi jangka panjang,” kata Bima.
“Targetnya mungkin dukungan politik. Targetnya mungkin membangun kekuatan politik di kalangan tertentu. Tapi berbahayanya bisa terjebak ke dalam narasi politik-politik sektarian yang jauh dari target kita membangun manusia dan memuliakan manusia. Tekanan massa, demonstrasi atas nama agama, isu-isu hukum yang bercampur dengan politik sehingga berat untuk melangkah,” beber Bima Arya.
Padahal, lanjut Bima, bagi para kepala daerah memanusiakan manusia dan menjamin hak minoritas tanpa terkecuali adalah kewajiban yang paling utama.
“Terdengar berat, tapi sejatinya kita semua punya tradisi luhur luhur. Punya nilai lokal yang mengalir dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, yakni kebersamaan dalam keberagaman. Ini investasi sosial dari para pendahulu kita di setiap daerah untuk membangun peradaban kota, untuk membangun kota yang inklusif, membangun kota untuk semua,” imbuhnya.
Jadi, menurut Bima, membangun generasi adalah mendemonstrasikan keberpihakan kepada minoritas agar mereka merasa ikut memiliki kota yang dicintai.
“Membangun generasi adalah menyelesaikan persoalan hukum. Walaupun ditekan kelompok ekstrim. Membangun generasi adalah menciptakan ruang terbuka publik yang nyaman bagi semua, tempat warga saling berbagi, apapun pilihan Pilkadanya, pilihan Pilpresnya dan apapun pekerjaan dan latar belakang sosialnya,” tandas Bima.
Untuk itu, Bima Arya mengajak para kepala daerah, khususnya yang tergabung dalam Apeksi untuk berjuang menggerakkan kolaborasi agar terbangun peradaban kota yang terbuka dan inklusif.
“Perbedaan adalah keniscayaan, karena keberagaman adalah keharusan. Tetapi kebersamaan dan persatuan harus terus kita perjuangkan. Mari kita terus berkolaborasi membangun kota yang inklusif, kota yang memanusiakan manusia,” pungkasnya.

