BUMN Bersinergi dan Kolaborasi Kuatkan Aspek Implementasi Enterprise Risk Management (ERM) Terintegrasi
Adapun Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2B OJK Bambang W. Budiawan menambahkan bahwa penerapan manajemen risiko dalam konteks konglomerasi perlu dilihat sebagai sebagai sesuatu yang holistik dan kontekstual. Hal itu mengingat setiap perusahaan di dalam holding memiliki kompleksitasnya, resiko material berbeda, risiko inheren yang berbeda-beda.
“Haltersebut memerlukan sebuah analisis dan pemikiran yang holistik, ” ujarnya.
Adapun Asisten Deputi Bidang manajemen Risiko dan Kepatuhan Kementerian BUMN Dwi Ary Purnomo mengatakan Kementerian BUMN terus melakukan transformasi secara menyeluruh di tubuh BUMN. Ia mengatakan aspek manajemen risiko merupakan salah satu hal yang menjadi prioritas dalam agenda transformasi tersebut.
“Aspek manajemen risiko merupakan aspek yang penting . Kementerian BUMN saat ini sedang menyusun pedoman manajemen risiko, dimana didalamnya aspek penguatan organ dewan komisaris dan organ penunjang menjadi hal yang tidak terpisahkan,” ujarnya.
Wakil Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) atau IFG Hexana Tri Sasongko mengunpkankan mengatakan ERM Terintegrasi menjadi prioritas IFG di tahun ini dimana perusahaan berusaha membangun tata kelola yang prudent dan risk manajemen yang robust.
“Manajemen risiko bukan menjadi stoper tapi business enabler kesadaran risiko, akan membawa kita mengambil keputusan terukur, pada resiko yang dapat diterima. Manajemen harus diimplementasikan bukan sekedar diukur, tetapi tidak dikontrol,” kata Hexana.

