BUMN dan Upaya Penurunan Impor
BUMNINC.COM I Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam beberapa kesempatan menyatakan kekecewaannya terkait impor Indonesia yang terus meningkat. Jokowi juga menumpahkan kekecewaan ini kepada perusahaan pelat merah yang belum sepenuhnya pro penggunaan produk dalam negeri.
Menurut Presiden, impor pusat sudah mencapai Rp526 triliun, impor daerah hampir Rp535 triliun, dan impor BUMN hampir Rp420 triliun. Bayangkan jika separuh dari nilai impor tersebut dialihkan ke dalam negeri, betapa besar pengaruhnya pada gerak roda perekonomian yang mengalami penyusutan akibat dampak COVID-19 selama hampir dua tahun terakhir.
Melihat data Badan Pusat Statistik (BPS), sebagian besar impor Indonesia berasal dari sektor migas dan non migas. Impor migas jelas tinggi karena kemampuan produksi domestik dan kebutuhan dalam negeri tidak seimbang.
Sedangkan impor migas terjadi karena kemampuan lifting perusahaan minyak di Indonesia maksimal hanya bisa menyentuh level 900 ribu bpd (barrel per day). Upaya peningkatan kapasitas produksi harus ditingkatkan baik dengan explorasi baru, meningkatkan produktivitas sumur tua (oil enhanced recovery), atau bahkan dengan langkah akuisisi beberapa ladang migas di luar negeri seperti yang sudah dikerjakan oleh Pertamina.

